Komplek Petrokimia Senilai Rp 53 Triliun Dibangun di Cilegon

Komplek Petrokimia Senilai Rp 53 Triliun Dibangun di Cilegon

Peletakan Batu Pertama (Ground Breaking) Pembangunan Komplek Petrokimia PT. Lotte Chemical Indonesia (PT LCI) di Cilegon, Jumat (7/12)

(rzp/csp)

Jumat, 7 Desember 2018 | 19:46

Analisadaily (Jakarta) - Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri Petrokimia di Indonesia untuk memperkuat struktur manufaktur nasional dari sektor hulu sampai hilir.

Sebab, industri petrokimia menghasilkan berbagai komoditas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri kemasan, tekstil, alat rumah tangga, hingga komponen otomotif dan produk elektronika.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan, industri Petrokimia sama pentingnya seperti industri baja, sebagai mother of industry. Untuk itu, perlu menjaga situasi lingkungan dan iklim usaha yang stabil agar proyek ini berhasil terlaksana dengan baik.

“Sehingga memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian secara keseluruhan,” kata Airlangga pada acara Peletakan Batu Pertama (Ground Breaking) Pembangunan Komplek Petrokimia PT. Lotte Chemical Indonesia (PT LCI) di Cilegon, Jumat (7/12).

Berdasarkan karakteristiknya, menurut Airlangga, industri Petrokimia dikategorikan sebagai jenis sektor manufaktur yang padat modal, padat teknologi dan lahap energy. Sehingga perlu mendapat perhatian khsusus dari pemerintah untuk langkah pengembangan yang berkelanjutan.

“Di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0 telah ditetapkan industri kimia menjadi salah satu sektor yang mendapatkan prioritas pengembangan agar menjadi pionir dalam penerapan revolusi industri 4.0,” jelasnya.

Karena itu, Kemenperin mengapresiasi kepada PT. Lotte Chemical Indonesia yang telah merealisasikan investasinya membangun komplek Petrokimia senilai USD 3.5 miliar atau sekitar Rp 53 triliun.

Pabrik dengan luas area 100 hektare ini memiliki total kapasitas produksi naphta cracker sebanyak 2 juta ton per tahun. Bahan baku itu selanjutnya diolah untuk menghasilkan 1 juta ton ethylene, 520 ribu ton propylene, 400 ribu ton polypropylene dan produk turunan lainnya yang juga bernilai tambah tinggi.

Serap Tenaga Kerja

Produksi PT. Lotte Chemical Indonesia tersebut untuk memenuhi permintaan domestik maupun global. Dalam proyek pembangunan infrastukturnya, diproyeksi menyerap tenaga kerja langsung hingga 1.500 orang dan dengan tenaga kerja tidak langsung bisa mencapai 4.000 orang pada periode 2019-2023.

“Langkah ini seiring arahan Presiden Jokowi untuk terus menggenjot investasi, industrialisasi, dan hilirisasi. Upaya ini diyakini meningkatkan perekonomian kita secara fundamental, dengan penghematan devisa dari substitusi impor, dan akan pula dapat memperbaiki neraca perdagangan karena berorientasi ekspor,” ujar Airlangga.

Menperin menyatakan, pihaknya bertekad mendorong percepatan pembangunan komplekpetrokimia, sehingga mendukung pengurangan impor produk petrokimia minimal 50 persen.

“Kami juga berharap agar proyek ini lebih mengutamakan penggunaan komponen lokal, termasuk tenaga kerja yang akan dilibatkan dalam proyek ini lebih diutamakan dari dalam negeri,” tegasnya.

Dalam upaya memasok tenaga kerja yang kompeten, Kemenperin memfasilitasi pembanguan Politeknik Industri Kimia di Cilegon. Melalui program pelatihan dan pendidikan vokasi, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja lainnya untuk pabrik ini.

Chairman Lotte Group Shin Dong Bin menyampaikan, pihaknya berkomitmen untuk turut membantu Indonesia agar perekonomiannya mampu melompat jauh. Untuk itu, melalui investasi ini akan menjadi sejarah dalam upaya menumbuhkan industri petrokomia berdaya saing global.

“Semoga proyek kami yang terintegrasi ini bisa menjadi percontohan. Apalagi, dengan adanya industri kilang olefin. Selain itu, produk kami dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga mengurangi impor senilai Rp15 triliun,” ujar Shin.

Pengiriman Boiler PLTU

Pada hari yang sama, Menperin Airlangga meresmikan pengiriman boiler Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) produksi PT Cilegon Fabrictors. Pengapalan boiler untuk memasok kebutuhan tahap ke-4 di PLTU Asam-Asam, Kalimantan Selatan (Kalselteng-2) dengan kapasitas 2 x 100 megawatt (MW).

“Dengan memproduksi boiler PLTU skala besar yang kapasitasnya mencapai 1000 MW, PT Cilegon Fabricators turut mendukung kebijakan pemerintah di sektor industri untuk menyukseskan Making Indonesia 4.0 ,dan mendorong tingkat komponen dalam negeri,” tuturnya.

Menperin menjelaskan, produsen boiler berperan penting dalam menopang daya saing sektor industri manufaktur di Indonesia. Sebab, boiler sebagai salah satu komponen utama (selain turbin uap) dari sebuah konstruksi PLTU. Fungsinya sebagai generator uap dalam kondisi tekanan dan suhu sangat tinggi.

“Ini juga memacu penghematan devisa dari substitusi impor dan memperbaiki neraca perdagangan saat ini melalui peningkatan ekspor,” ujarnya.

PT. Cilegon Fabricators juga berpartisipasi untuk pembuatan PLTU Lontar #4, 315 MW dengan type boiler Ultra Super Critical. “Bahkan, di Jepang memasok 1 x 149 MW dan di Maroko 2 x 693 MW. Ini menandakan kita bisa membuat kapasitas yang besar,” imbuhnya.

PT. Cilegon Fabricators merupakan anak perusahaan dari IHI Corporation, Jepang. Kapasitas produksi pabrik ini setiap tahunnya, menghasilkan sebanyak 18.800 ton baja konstruksi, kemudian 7.800 ton boiler pressure parts, dan 3.000 ton Heat Recovery Steam Generator (HRSG) module.

Tidak hanya untuk memenuhi permintaan domestik, produk-produk tersebut mampu menembus pasar ekspor. PT. Cilegon Fabricators yang beroperasi sejak tahun 1984 ini telah mengirimkan boiler untuk pembangkit listrik ke berbagai negara seperti Australia, Jepang, Malaysia, Bangladesh, Jerman, Amerika Serikat, Maroko, Taiwan, Chili dan Aljazair.

Dengan kapasitas terpasang sebesar 3 Giga Watt pembangkit listrik per tahun, perusahaan initelahmenyerap tenaga kerjalokal sebanyak 1.300 orang dan pekerja dari Jepang hanya 4 orang.

“Ini juga menunjukkan bahwa kompetensi engineering kita sudah mampu bersaing dalam menghasilkan produk yang kompetitif untuk pasar domestik dan ekspor,” tambahnya.

Hal ini pun sejalan dengan upaya pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM) industri yang berkualitas.

Total luas pabrik PT. Cilegon Fabricators yang mencapai 25.000 m2 ini didukung dengan area workshop produksi, plant untuk sistem pengelasan material high grade, dan plant untuk blasting-painting, serta tersedia loading-unloading yard dan pelabuhan milik pribadi.

Vice President IHI Corporation Hiroshi Ide menyampaikan, dengan sangat kritikalnya material dan pekerjaan fabrikasi boiler, pihaknya menekankan untuk pekerjaan pengelasan menjadi salah satu proses fabrikasi yang sangat penting karena akan menentukan hasil akhir dari boiler dengan performa dan efisiensi terbaik.

“Dalam pekerjaan pengelasan, keterampilan dari tenaga kerja kami sudah sangat tinggi dan mampu memproduksi boiler dengan kualitas dunia. Mereka adalah semua orang Indonesia, yang sudah kami bina dengan sangat baik sampai dengan kemampuan keterampilannya yang sangat tinggi,” paparnya.

Dia menambahkan, saat ini perusahaan telah ditopang dengan peralatan dan teknologi terkini, sehingga sudah teruji mampu memproduksi boiler dengan kapasitas terbesar dunia yang mencapai 1000 MW.

“Yang juga tidak kalah pentingnya adalah kami mempunyai dermaga pengiriman dan jetty pribadi yang tentu saja akan membawa banyak kelebihan dan keuntungan kepada banyak pihak,” imbuhnya.

Dengan dermaga dan jetty pribadi tersebut, perusahaan memastikan lebih cepat dalam waktu proses pengiriman.

“Kecepatan ini tentu akan membawa keuntungan kepada kedua belah pihak, baik kami sendiri sebagai yang memproduksi boiler, maupun pihak pemilik proyek misalnya PLN atau negara-negara lain yang menjadi mitra kerja dan customer kami,” ungkapnya.

(rzp/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar