Ketua RW Ungkap Keseharian Pelaku Bom di Surabaya

Ketua RW Ungkap Keseharian Pelaku Bom di Surabaya

Bom meledak di salah satu gereja di Kota Surabaya, Jumat (13/5) pagi (net)

Minggu, 13 Mei 2018 | 20:38

Analisadaily (Surabaya) - Pasca pengeboman tiga gereja di Kota Surabaya, Jawa Timur, Densus 88 Anti Teror langsung melakukan penggerebekan di rumah terduga pelaku pengeboman di Perumahan Wonorejo Asri, Rungkut, Minggu (13/5) sore.

Dalam penggerebekan itu, empat buah bom ditemukan di salah satu kamar rumah yang sudah tak berpenghuni. Keempat bom tersebut langsung diledakkan oleh tim Densus 88 untuk menghindari hal yang tak diinginkan.

Menurut Ketua RW setempat, Taufiq Ghani, pelaku merupakan sosok yang cukup terbuka dengan tetangga sekitar. Sejak menempati rumah tersebut tahun 2012, pelaku dan keluarganya selalu berbaur dengan masyarakat sekitar dan tidak pernah menunjukkan kejanggalan.

"Pelaku setiap subuh, magrib dan isya selalu shalat berjamaah dengan kita di masjid. Anak-anak pelaku juga biasa main sepeda di sekitar perumahan. Mereka sudah dari tahun 2012 membeli rumah ini dan tinggal disini," ujar Taufiq, Minggu (13/5) malam.

Taufiq yang beberapa kali pernah mengunjungi rumah pelaku, sama sekali tidak menyangka jika tetangganya itu merupakan jaringan teroris. Bahkan dia sempat berdebat kecil dengan petugas yang datang untuk menggeledah rumah pelaku.

"Biasa saya kalau ke rumahnya disuguhi air madu. Bahkan tadi pagi kami masih shalat subuh berjamaah di masjid. Makanya waktu ada petugas yang datang, saya sempat tanya, dari mana mereka tahu kalau dia pelakunya. Setelah ditunjukkan foto-foto di lokasi kejadian, baru kita percaya," jelas Taufiq.

Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap identitas pelaku bom gereja di Surabaya masih satu keluarga. Kapolri juga memaparkan pembagian peran masing-masing pelaku.

"Jadi pelaku diduga satu keluarga," ujar Tito dalam jumpa pers di RS Bhayangkara, Surabaya.

Pelaku penyerang di GPPS Arjuna diduga kuat adalah sosok ayah dalam keluarga ini. Sebelum menyerang, sosok berinisial D ini menurunkan istrinya yang berinisial PK dan dua anak perempuannya di dekat gereja GKI Diponegoro.

"Sebelumnya dia drop istri dan dua anak perempuan," tutur Tito.

Kemudian D menyerang gereja GPPS Arjuna. Di waktu berdekatan si istri dan dua anak perempuannya juga menyerang GKI Diponegoro.

Masih dalam waktu yang juga berdekatan, terjadi serangan teror ke Gereja Santa Maria Tak Bercela. Pelaku serangan di gereja terakhir ini adalah dua anak laki-laki dari pasangan D dan PK.

"Untuk gereja Santa Maria diserang oleh dua sosok yang diduga merupakan anak laki-laki dari D dan PK," jelas Tito.

Presiden Joko Widodo menyebut teror bom di tiga gereja di Surabaya sebagai aksi biadab. Jokowi menegaskan negara tidak akan tinggal diam untuk mengusut jaringan pelaku teroris.

"Tindakan terorisme kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan," kata Jokowi.

Hingga kini, bom yang meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya atau GPPS Jemaat Sawahan di Jalan Arjuna dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya di Jalan Diponegoro, Minggu (13/5) sekitar pukul 07.30 WIB, sudah menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 40 orang.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar