Kepala BNPB Paparkan Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan

Kepala BNPB Paparkan Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo i acara Rakor Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana Karhutla di Kantor Bupati Bengkalis (4/3)

(rel/csp)

Senin, 4 Maret 2019 | 19:34

Analisadaily (Bengkalis) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo menyampaikan, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia penyebabnya 99 persen ulah manusia dan 1 persennya adalah alam.

"Antara lain, tidak sengaja karena buang putung rokok atau membakar sampah, disengaja karena ingin membuka lahan, dan disengaja karena dibayar. Alasannya adalah dampak kurangnya lapangan kerja," Doni Monardo di acara Rakor Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana Karhutla di Kantor Bupati Bengkalis (4/3).

Permasalahan utama, lanjutnya, adalah faktor ekonomi masyarakat. Salah satu solusinya adalah memanfaatkan lahan yang subur di Riau dalam meningkatkan komoditas ekonomi rakyat seperti kopi, lada, dan sebagainya. Sehingga terbuka lapangan kerja untuk masyarakat. Contohnya pasar lada setiap tahunnya sampai dengan 16 miliar USD.

Upaya pencegahan dan mitigasi akan lebih baik dan efektif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Tahun 2015, kerugian ekonomi Indonesia mencapai 221 triliun atau 2 kali lipat akibat kerugian ekonomi di bencana tsunami di Aceh. Akibat bencana alam korbannya melampui korban perang, selama 18 tahun (2000-2018) mencapai 1.220.701 orang meninggal dunia.

"Kita jaga alam Bengkalis agar damai dan harmonis. Perubahan iklim jadi perbincangan dan solusinya kita harus jaga alam. Harus menjaga keseimbangan alam. Program pentahelix yang melibatkan semua unsur, para pakar/akademisi, dunia usaha, pemerintah, masyarakat dan media,” ujarnya.

Hadir dalam rakor itu, di antaranya  Gubernur Riau, Syamsuar, Sekretaris Daerah Bengkalis, Bustami HY, Kepala BMKG, Dwikorita, Badan Restorasi Gambut (BRG), Haris Gunawan dan  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Raffles serta Wakil Asops Panglima, Khairil Lubis.

Syamsuar mengatakan, Pulau Bengkalis adalah pulau terluar dari Riau, selain Karhutla ancaman bencana lainnya adalah abrasi.

"Terima kasih atas kunjungannya ke Riau, komitmen kami mencetuskan Riau Hijau. Sesuai arahan Presiden tidak ada pembukaan lahan baru, dan kami berkomitmen tentang hal itu. Karena sudah ada 2.8 juta hektar lahan sawit dan Riau merupakan terbesar di Indonesia," ucapnya.

Bustami, mewakili Bupati Bengkalis menjelaskan, kebakaran hutan dan lahan dapat dihentikan atau dikurangi jumlahnya.

"Seluruh komponen bertanggung jawab menjaga agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan termasuk forkopimda,  kepala dusun dan masyarakat," tutur Bustami.

Dwikorita mengungkapkan, bulan Juni-September 2019 akan terjadi kemarau panjang, selain tahun ini adalah musim El Nino.

"Bengkalis masuk pada bulan Juni perkiraan musim kemaraunya dan Riau akan mulai pada Maret Akhir," ungkapnya.

 "Lahan gambut di Riau, dalam keadaan merah. Sehingga kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan. Perlu adanya air untuk menyeimbangkan ekosistem, restorasi gambut, pelibatan masyarakat, dan peringatan dini kebakaran lahan. Harus jelas kepemilikan lahan untuk memudahkan pemadaman, dan sejahterahkan rakyat," sambung Gunawan.

Senada dengan Gubernur Riau, Rafles menyampaikan, arahan menteri LHK, tidak ada lagi pembukaan lahan baru, apalagi yang berlahan gambut. HTI juga ditinjau kembali agar tidak ada lagi yang lahan HTI yang berlahan gambut.

Bengkalis di tahun 2019 agak tinggi potensi Karhutla dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kami sedang membuat inovasi menggunakan sprinkle untuk membasahi lahan gambut agar tidak mudah terbakar. Ada contoh yang baik dari pembukaan lahan gambut tanpa membakar di Kubu Raya," ajaknya.

(rel/csp)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar