Kendaraan Ramah Lingkungan Perlu Dikembangkan

Kendaraan Ramah Lingkungan Perlu Dikembangkan

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Sabrina, saat menaiki kendaraan listrik di Medan, Selasa (18/12)

(rzp/csp)

Selasa, 18 Desember 2018 | 20:10

Analisadaily (Medan) - Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Sabrina mengatakan, keberadaan kendaraan listrik tanpa bahan bakar minyak merupakan jawaban atas semakin langkanya sumber energi fosil.

Karena itu, produksi ini perlu dikembangkan sebagai energi alternatif. Soal keberadaan mobil dan kendaraan listrik lainnya, langkah ini merupakan inovasi anak negeri yang patut diapresiasi dan didukung.

Termasuk juga pengembangannya di Indonesia, mengingat sumber energi fosil yang selama ini terus digunakan, semakin berkurang.

"Sehingga perlu ada alternatif lain sekaligus ramah lingkungan. Ini satu langkah baik. Tetapi memang, bagaimana agar kendaraan ini bisa dikembangkan. Tidak hanya untuk mobil, atau sepeda motor, tetapi termasuk becak dan bahkan bus," kata Sabrina, Selasa (18/12).

Sekda meminta PLN bisa menyediakan sarana pengisian daya listrik di beberapa tempat di Sumatera Utara. Mengingat kendaraan ini harus diisi ulang selama beberapa waktu sebagian pengganti BBM.

"Saya kira ini merupakan mobil masa depan. Akan sangat berguna bagi kita," sebutnya.

GM PLN Wilayah Sumut, Feby Joko Priharto mengatakan, dengan mobil listrik ini para pengguna akan merasakan perbedaan dari segi hemat bahan bakar. Selain tidak menggunakan BBM, daya listrik yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan juga lebih hemat.

"Kita sudah siapkan stasiun pengisian daya listrik di Kota Medan dan beberapa tempat. Akan kita tambah seiring bertambahnya jumlah kendaraan listrik. Kita juga sudah berangsur menggunakan kendaraan listrik," ucapnya.

Perbandingan

Mengenai perbandingan biaya antara kendaraan listrik dan konvensional menggunakan BBM, Dosen ITS Surabaya, Muhammad Noer menjelaskan keunggulan menggunakan produk anak Negeri tersebut.

Dikatakannya, konsumsi energi 1 KwH bisa menggerakkan mobil sejuah 5 Km. Jika harganya Rp1.500/KwH, maka untuk harga Rp 7.500 bisa sampai 25 Km. Sementara kendaraan biasa (mobil), satu liter hanya mencapai 10-15 Km.

"Jika diibaratkan minyak, satu liter itu bisa mencapai hampir dua kali lipat lebih hemat. Kalau kecepatan, maksimal mencapai 140 Km/jam. Tetapi kita rata-rata, 60-70 Km/jam," katanya, yang menyebutkan bahwa mereka telah melalui 4.500 Km untuk sampai ke Sumut.

(rzp/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar