Kemarau di Langkat Ancam Ratusan Hektar Padi

Kemarau di Langkat Ancam Ratusan Hektar Padi

Sejumlah petani sibuk menyedot air dari parit buatan dengan menggunakan mesin untuk dialirkan ke areal persawahan di Pasar Serapuh, Desa Paloh Manis, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Minggu (11/6)

(hpg/csp)

Minggu, 11 Juni 2017 | 20:03

Analisadaily (Langkat) - Ratusan hektar tanaman padi di kawasan Pasar Serapuh Dusun 4 Desa Paloh Manis, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, terancam mati, karena mengalami kekeringan, Minggu (11/6).

Hal ini terjadi karena musim kemarau satu bulan terakhir sehingga para petani kelabakan untuk mengairi tanamannya. Pasalnya, aliran air yang selalu diandalkan, mengering. Kendati ada sumur bor, namun ebitnya tidak cukup membasahi tanah persawahan.

Pantauan Analisadaily.com, sebagian besar areal sawah khususnya di Desa Paloh Manis, kondisi tanahnya kering hingga retak-retak. Akibatnya, pertumbuhan padi terancam kerdil dan lambat berkembang.

Disisi lain, penanaman semai padi juga terpaksa ditunda karena tanah kering. Fatalnya, ada sejumlah petani membiarkan sawahnya terlantar tidak digarap karena tidak memperoleh pasokan air.

Salah seorang petani, Bejo S alias Wak Kunting (63) mengakui, padinya terancam gagal tumbuh jika tidak di isi air. Namun, sedikit lebih diuntungkan karena debit air parit dapat diandalkan untuk membasahi sebagian petakkan sawahnya.

"Sudah seharian saya menyedot air parit, agar bisa memupuk, tapi airnya kandas tidak mencukupi," tutur Bejo, sambil sibuk menarik selang air dibantu cucunya, Riskon (16).

Menurutnya, tak jarang petani berebut air saat akan membajak sawahnya. Segala upaya dilakukan agar tidak gagal panen.

"Bagi petani berduit dapat membangun sumur bor pribadi, karena sumur yang dibuat pemerintah masih minim. Banyak petani tidak kebagian. Kalau petani modal sedikit, seperti saya, paling hanya bisa menyewa mesin penyedot, itupun dari sisa air parit," tambahnya.

Hal senada juga diutarakanWondo (32). Dia menyebutkan, lahan sawahnya seluas tujuh rante baru saja dipupuk. Meski padinya hijau, tapi permukaan tanah mulai kering. Bapak satu anak ini pun khawatir pertumbuhan dan produksi padinya tidak sebagus tahun lalu.

"Tidak tahu lagi kita mau ambil air dari mana. Padahal sumber air dari sumur bor sudah kita isi ke sawah sampai malam, tapi kerena musim panas airnya cepat kering. Sementara parit, airnya sudah kering. Saya berharap turun hujan agar tanaman bisa selamat," ujarnya.

Wondo menyarankan, supaya parit segera di perbaiki sehingga lebih dalam dan salurannya juga lancar. Jika turun hujan dapat menyimpan air lebih besar. Dia juga menyapaikan, Pemkab Langkat akan melakukan normalisasi parit di areal persawahan Dusun 4 tersebut.

"Saya senang mendengar kabar itu, semoga saja cepat terealisasi, karena sudah lama sekali parit ini tidak dicuci dan semakin dangkal. Bila perlu pemerintah membangun waduk/embung untuk persediaan air," harapnya.

(hpg/csp)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar