Keluarga Pertanyakan Kematian 'Janggal' Jessica di RS Adam Malik

Keluarga Pertanyakan Kematian 'Janggal' Jessica di RS Adam Malik

Keluarga memegang foto Jessica Katelieb Br Sianipar

(jw/eal)

Sabtu, 7 Oktober 2017 | 21:14

Analisadaily (Medan) - Piter Simbolon menyesalkan tindakan dokter di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan yang terkesan tidak serius menangani pasien.

Dia pun menduga cucunya yang baru berusia 4 tahun 1 bulan, Jessica Katelieb Br. Sianipar, meninggal tak wajar di rumah sakit tersebut.

Piter menceritakan, pada tanggal 23 Agustus sekitar pukul 09.00 WIB, Jessica dibawa ke RSUP H. Adam Malik Medan lantaran mengalami sesak napas dan batuk. Bocah itu kemudian dibawa ke Ruang IGD untuk mendapat perawatan.

"Di ruang IGD cucu saya dipasangi infus pada kakinya. Alasan dokter, tidak bisa dipasangi infus di tangan karena badan cucu saya gemuk. Saat itu dokter menyarankan agar cucu saya dipasangi alat bernama Central Venous Catheter atau CVC," kata Piter Simbolon, Sabtu (7/10).

Keluarga sempat mempertanyakan apakah ada cara selain memasang CVC pada tubuh Jessica. Bahkan Piter sempat mempertanyakan kepada dokter apa risiko jika alat itu dipasang. Namun dokter memastikan jika mereka sudah biasa memakai alat tersebut.

"Saya tanya risikonya apa jika dipasang alat itu? tapi dari pihak dokter bilang mereka sudah biasa tangani ini dan tidak pernah gagal. Kalau pun ada risikonya, dokter bisa mengatasi," jelasnya

Kemudian, lanjut Piter, di saat bersamaan tim medis RS H. Adam Malik menyodorkan kepada keluarga pasien untuk meneken berkas tanpa menjelaskan isi dari berkas tersebut. Tim medis mendesak orang tua pasien agar segera meneken berkas itu sebab pasien harus langsung dipasangi alat CVC.

"Kesempatan untuk membaca berkas itu pun tidak ada. Hanya disuruh teken karena alat itu mau cepat dipasang. Setelah diteken, jam 12.00 WIB ternyata alatnya tidak ada. Saat itu cucu saya masih bisa bermain dan berdoa pun," ungkapnya.

Karena alat yang dimaksud tidak ada, keluarga sempat meminta agar pasien dipindahkan ke rumah sakit lain. Namun pihak dokter menolak karena takut menanggung risiko.

"Padahal yang minta pindah itu keluarga. Saya sempat minta agar cucu saya dipinjamkan oksigen, tapi mereka bilang tidak bisa. Akhirnya cucu saya tetap di rumah sakit itu," ujarnya.

Empat jam kemudian, alat CVC akhirnya datang. Dokter lalu memasang alat itu di tangan sebelah kanan, tepat di bagian bawah bahu pasien. Namun dalam hitungan menit, Jessica langsung meninggal dunia.

"Begitu dipasang, hitungan menit cucu saya meninggal. Ini yang keluarga tidak bisa terima. Kalau dari awal dijelaskan, itu tidak mungkin terjadi. Kami bingung, mengapa dokter tidak menjelaskan risiko sekecil-kecilnya," sesalnya.

Seminggu kemudian, keluarga sempat meminta rekam medis pasien. Ternyata rekam medis itu belum ada. Pihak rumah sakit menjanjikan agar keluarga mengambil rekam medis pada 4 September sekira pukul 10.00 WIB. Namun ternyata rekam medis itu tak kunjung selesai.

"Saat didatangi, rekam medisnya belum dibuat. Kami hanya diberikan resume. Setelah kejadian ini, keluarga jadi shock. Harapan kami supaya pejabat pemerintah tahu bahwa kinerja dokter terlalu sepele bermain-main dengan nyawa manusia. Keluarga melihat ada kejanggalan. Karena itulah kami akan menempuh jalur hukum," tegasnya.

Terpisah, Humas RSUP H. Adam Malik Medan, Ocha mengatakan, resume medis dan hasil lab pasien secara lengkap sudah diberikan pada tanggal 5 September 2017 kepada Okto Reniska Simbolon sebagai perwakilan kuasa hukum keluarga yang juga merupakan tante pasien.

"Semua informasi sudah kami berikan di dalam resume medis. Hasil lab juga lengkap kami berikan. Semua tindakan medis yang dilakukan sudah sesuai prosedur. Keluarga pasien juga sudah mempertanyakan hal yang sama lewat kuasa hukum dan sudah kami jawab dengan menggunakan resume medis," jelasnya.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar