Kecewa Jadi Alasan Farhan Lakukan Penghinaan Terhadap Jokowi

Kecewa Jadi Alasan Farhan Lakukan Penghinaan Terhadap Jokowi

M Farhan Balatif alias Ringgo Abdillah, menjalani sidang di ruang utama Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (27/12).

(jw/rzd)

Rabu, 27 Desember 2017 | 21:42

Analisadaily (Medan) - Terdakwa penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian melalui media sosial, M Farhan Balatif alias Ringgo Abdillah, menjalani sidang dengan agenda mendengarkan keterangan di ruang utama Pengadilan Negeri (PN) Medan.‎

‎"Saya melampiaskan itu, melihat dengan kebijakan dan kinerja buruk Jokowi. Melihat harga pokok naik, banyak pengangguran, bahan pokok impor dari luar negeri.‎ Saya kesal itu," kata Farhan di hadapan majelis hakim diketuai ‎Wahyu Setyo Prabowo, Rabu (27/12).

Hakim Wahyu kemudian mempertanyakan, selain Jokowi siapa lagi yang dihina? Farhan menyebutkan Kapolri Tito Karnavian, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan Mantan Gubernur DKI Jakarta,‎ Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok‎.

"Kenapa saudara terdakwa menghina mereka," tanya kembali majelis hakim.

"Kalau pak Tito karena polisi. Polisi itu, saya edit kepalanya menjadi gambar anjing. Karena, polisi menjilat seperti anjing. Kalau Jokowi saya ganti menjadi kepala babi. Babi itu, hina dan kotor. Mereka itu melindungi Ahok, penista agama Islam bersama Megawati," jawab Farhan.

Farhan juga mengungkapkan, penghinaan dilakukannya sejak Juli hingga 9 Agustus 2017. Dengan perincian, penghinaan menggunakan media sosial sebanyak 40 kali dan penghinaan dengan tulisan sebanyak 9 kali. Penghinaan itu dilakukan dalam keadaan sadar dan mengakui apa yang dilakukan salah dan melanggar hukum.

"Saya mengedit dengan menggunakan Photoshop‎. Kemudian, saya tulis juga dengan tulisan, Pak Jokowi sampai sekarang polisi belum menangkap saya. Gue buronan polisi. Teroris rekayasa polisi. UU ITE omong kosong‎," jelas Farhan.

Hakim kembali bertanya soal penangkapan dirinya. Farhan menjelaskan, ditangkap saat santai di dalam kamar rumahnya, Jalan Bono No 58 F, Kelurahan Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, 9 Agustus 2017.‎ Saat itu polisi menyita dua unit laptop, Flash disk dan telepon genggam miliknya.

"Saya ditangkap saat tidur-tidur di dalam kamar, saya ditangkap polisi dari Mabes Polri dan Polrestabes Medan," ungkapnya.

Untuk melakukan penghinaan di dunia maya, Farhan mengakui sudah mencuri wifi milik tetangga sebelah rumah. Dua jaringan wifi milik tetangga dijebolnya. "Dengan menggunakan aplikasi saya pelajari internet. Makanya, bisa diketahui wifi mana yang aktif dan bisa dijebol password-nya. Kalau saya minta izin, pasti saya dimarahi pemiliknya pak majelis hakim," tutur terdakwa.

Farhan mengakui kesalahannya dan meminta hukuman ringan kepada majelis hakim. "Kalau itu, nanti waktu membacakan nota pembelaan (pledoi). Sekarang masih pemeriksaan terdakwa," jawab hakim.

Hakim kemudian mempertanyakan kenapa terdakwa putus sekolah. "Saya dipangkas guru, kemudian diejek-ejek kawan dan saya malu. Saya tidak mau sekolah lagi," ucap terdakwa.

Setelah mendengarkan keterangan terdakwa, majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan, Rabu 3 Januari 2018. Dengan agenda pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Atas perbuatannya, terdakwa diancam pidana dalam Pasal 45 Ayat (3) UU RI No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 27 Ayat (3) UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

(jw/rzd)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar