Kasus Videotron, Riefan Dituntut 7,5 Tahun Bui dan Uang Pengganti Rp 5,3 M

Kasus Videotron, Riefan Dituntut 7,5 Tahun Bui dan Uang Pengganti Rp 5,3 M

foto/dtc

Kamis, 4 Desember 2014 | 11:07

detikNews - Jakarta, Dirut PT Rifuel, Riefan Avrian dituntut hukuman 7 tahun 6 bulan penjara, denda Rp 200 juta subsidair 3 bulan kurungan. Riefan dinilai terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek pengadaan videotron di Kementerian Koperasi dan UKM.

"Menuntut supaya majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan terdakwa Riefan Avrian terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," ujar jaksa

Mia B membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (4/12/2014).

Riefan juga dituntut membayar uang pengganti Rp 5,39 miliar. Bila uang pengganti tidak dibayarkan dalam waktu 1 bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, maka harta benda milik Riefan akan disita.

"Dalam hal tidak memiliki harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti maka dipidana penjara selama 3 tahun 9 bulan," kata jaksa.

Dalam tuntutannya, jaksa memaparkan Riefan sengaja menggunakan PT Imaji Media selain PT Rifuel untuk mengikuti proses lelang di Kemenkop dan UKM. Untuk mempermulus kepentingannya, Riefan menunjuk office boy bernama Hendra Saputra sebagai Dirut PT Imaji dan Akhmad Kamaluddin sebagai komisaris.

"Maksud terdakwa menempatkan karyawannya agar terdakwa mudah mengendalikan PT Imaji Media," ujar jaksa Andri Kurniawan.

Setelah PT Imaji Media dinyatakan sebagai pemenang lelang, Riefan lantas bergerak mengurusi pelaksanaan pekerjaan persiapan, konstruksi dan pemasangan videotron.

Tapi dalam pengerjaan proyek diketahui adanya penyimpangan pengerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis sebagaimana tertuang dalam kontrak. Adapula item kontrak yang tidak dikerjakan seperti hanya terpasangnya 1 unit videotron, generator, pemasangan sambungan listrik PLN ke LED videotron yang tidak dikerjakan termasuk soal tangki bahan bakar.

"Adanya perubahan pekerjaan oleh terdakwa tidak dilakukan adenddum melainkan hanya disampaikan lisan," tegas jaksa.

Dari proyek ini, Riefan memperoleh keuntungan Rp 5 miliar lebih. Padahal anak Ketua Harian Partai Demokrat Syarief Hasan ini ditegaskan jaksa tidak berhak menerimanya. "Terdakwa menerima keuntungan padahal tidak berhak menerima, karena terdakwa tidak memiliki hubungan hukum dengan pekerjaan tersebut," papar jaksa.

Akibat penyimpangan, negara dirugikan Rp 8,087 miliar. Namun besaran kerugian tersebut dikurangi dengan pengembalian kelebihan bayar oleh PT Imaji Media sebesar Rp 2,69 miliar. "Sehingga kerugian negara tersisa Rp 5,39 miliar," ujar jaksa. (fdn)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar