Kasus Kepemilikan Satwa Dilindungi, Nahkoda dan 8 ABK Dituntut 10 Bulan Penjara

Kasus Kepemilikan Satwa Dilindungi, Nahkoda dan 8 ABK Dituntut 10 Bulan Penjara

Nahkoda dan 8 ABK jalani sidang di PN Medan, Kamis (25/7)

(jw/rzd)

Kamis, 25 Juli 2019 | 20:36

Analisadaily (Medan) - Seorang terdakwa yang merupakan nakhoda kapal, Zulkifli Nasution, bersama 8 Anak Buah Kapal (ABK) dituntut hukuman 10 bulan penjara. Mereka dinilai bersalah menyeludupkan 28 ekor burung yang terdaftar sebagai satwa dilindungi.

Sebanyak 8 ABK adalah Edi Mart Handra Butar Butar, Muhammad Saiful, Muhammad Siddik, Ismail, Aditya San Prayoga, Muhammad Ilham Ramadhan, Umar Effendi dan Joshua Fransciskus Hutabarat.

Dalam nota tuntutannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Sani Sianturi mengatakan, perbuatan kesembilan terdakwa sebagaimana yang diatur dan diancam dalam Pasal 21 ayat (2) huruf a dan c jo Pasal 40 ayat (2) UU RI No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo Peraturan Pemerintah RI No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa jo Permen LHK No 106 tahun 2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

"Menuntut masing-masing terdakwa dengan pidana penjara masing-masing 10 bulan penjara, denda Rp 5 juta, subsider 1 bulan kurungan," kata JPU dalam persidangan yang digelar di Ruang Cakra 4, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (25/7).

Usai mendengarkan tuntutan, majelis hakim yang diketuai Riana Pohan selanjutnya menunda persidangan hingga sepekan mendatang untuk mendengarkan pembelaan para terdakwa.

Kasus ini bermula pada 4 Februari 2019 sekitar pukul 14.00 WIB. Terdakwa Zulkifli Nasution yang bertugas sebagai nakhoda kapal bersama 8 ABK, berangkat dari Pelabuhan Belawan menuju Maluku menggunakan Kapal Tug Boat Kenari Djaja milik perusahaan PT Tjipta Rimba Djaja.

Tiba di Maluku pada 22 Februari 2019 sekitar pukul 17.00 WIT. Selanjutnya, dilakukan pemuatan kayu log sekitar 1 minggu yang dilakukan oleh operator PT Tjipta Rimba Djaja dan buruh yang berada di Maluku.

Sebelum kembali ke Belawan, seluruh ABK ditawari oleh masyarakat kampung di Wailanga untuk membeli burung. Ada juga masyarakat yang menawari burung dengan datang ke kapal yang digunakan para terdakwa.

Satwa dilindungi tersebut dibeli dengan harga bervariasi. Paling mahal dibeli adalah satu ekor burung Kaka Tua Jambul Kuning seharga Rp 2 juta. Kemudian satu ekor Kasturi Kepala Hitam seharga Rp 500 ribu.

Burung-burung yang dibeli para terdakwa dari masyarakat dibawa ke Kapal Tug Boat Kenari Djaja. Kemudian kapal berangkat dari Maluku menuju perairan Belawan. Sesampainya di perairan Belawan, koordinat N 03O52’48"/E 098O46’40", Sabtu 13 April 2019 sekitar pukul 22.00 WIB, petugas Bea dan Cukai melakukan pemeriksaan. Petugas menemukan 28 ekor burung yang dilindungi oleh undang-undang.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan petugas Bea dan Cukai ditemukan sebanyak 28 ekor burung dilindungi oleh undang-undang dari dalam Kapal Tug Boat Kenari Djaja.

Tujuan terdakwa membeli burung-burung tersebut untuk dipelihara sendiri, dan tidak untuk diperjual belikan. Akan tetapi terdakwa tidak memiliki dokumen atau izin untuk mengangkut satwa burung tersebut.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar