Kapolri Kagum Dengan Tingginya Nilai Kebudayaan Sumut

Kapolri Kagum Dengan Tingginya Nilai Kebudayaan Sumut

Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian bersama Kapolda Sumut, Irjen Pol. Paulus Waterpauw di Lapangan Samura, Kota Kabanjahe, Kabupaten Karo, Kamis (24/8)

(dgh/eal)

Kamis, 24 Agustus 2017 | 17:36

Analisadaily (Karo) - Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian memuji Provinsi Sumatera Utara karena kekayaan budayanya.

Menurutnya, kekayaan budaya merupakan bukti bahwa Sumut memiliki peradaban yang tinggi. Salah satu buktinya lagi adalah kekayaan bahasa daerah.

Di beberapa daerah, percakapan dimulai dengan salam atau greetings. Tito menjelaskan, tidak semua suku yang ada di Indonesia memiliki salam.

"Coba datang ke mana-mana tidak ada. di Papua tidak ada. Yang ada di belakangnya aja, terima kasih, wah...wah...wah...," ujar Tito di Lapangan Samura, Kota Kabanjahe, Kabupaten Karo, Kamis (24/8).

Selain itu, sambung Tito, peradaban tinggi juga bisa dilihat dari cara mengakhiri sebuah kegiatan atau pertemuan, seperti mengucapkan terima kasih. Ia mengutip 'Bujur Melala' dari bahasa karo.

"Artinya, masyarakat di sini orang yang bisa berterima kasih kepada orang lain. Saya contohkan sewaktu tugas di Sulawesi Selatan. Jadi di Makassar dan di Suku Bugis itu tidak ada bahasa daerahnya terima kasih, tetap itu juga," pungkas jenderal bintang empat itu.

Tito tidak mau berbicara panjang lebar. Ia menggunakan kunjungan itu dengan memotivasi masyarakat Karo, khususnya pengungsi Gnung Sinabung. Ia juga menyempatkan diri bersenda gurau dengan Kapolda Sumut, Irjen Pol. Paulus Waterpauw.

Gurauannya seputar kenangan tatkala bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan beberapa waktu lalu.

Saat itu, Ignasius Jonan terkaget-kaget dengan kemampuan logat Paulus Waterpauw. Paulus yang asli Papua ternyata fasih berbahasa Jawa.

"Karena beliau ini lama di Jawa Timur, bahasa jawanya medok sekali sehingga Pak Jonan kaget. Begitu datang ke Papua, Pak Jonan nanya ke saya. 'Itu Pak Waterpaw orang Papua atau Jawa?'" kata Tito menirukan pertanyaan Jonan.

"Pak Waterpaw menyapa Pak Jonan. Woi Pak Jonan, pie kabare Toh? Jawanya asli benar. Lama di Papua dengan segala adat istiadat, biasanya diakhiri dengan wah..wah..wah... Tapi di sini saya lihat sudah hafal mejuah-juah, hafal horas, hafal ya'ahow. Macam-macam sekali," sambung Tito.

Mendengar hal tersebut, Paulus Waterpaw yang duduk di deretan kursi bagian depan pun tergelak. Pengunjung Lapangan Samura juga ikut tertawa.

(dgh/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar