Kapoldasu Sebut Nelayan Mata Telinga di Perairan

Kapoldasu Sebut Nelayan Mata Telinga di Perairan

Kapolda Sumut, Irjen Paulus Waterpauw (dua kanan) memberikan cenderamata kepada perwakilan kelompok nelayan di Aula Benteng Hurada Mako Brimob, Jalan Wahid Hasyim Medan, Selasa (14/11)

(dgh/eal)

Selasa, 14 November 2017 | 17:04

Analisadaily (Medan) - Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol. Paulus Waterpauw, menyebut nelayan dan asosiasinya punya pengaruh besar dalam pencegahan narkotika dan penyelundupan senjata maupun barang ilegal.

Menurutnya, nelayan merupakan orang-orang lapangan yang mengenal betul lokasi perairan. Karena itu, Kapolda menganjurkan agar antara polisi dan nelayan tetap terjalin kerjasama dan bersinergi.

"Kita harus kerjasama. Nelayan dan asosiasi bisa menjadi mata telinga kami. Minimal apabila nelayan melihat sesuatu yang aneh, tolong segera beritahu kepada kami agar segera kami tangani," ujar Irjen Paulus saat berdialog dengan kelompok nelayan di Aula Benteng Hurada Markas Satuan Brimob, Jalan Wahid Hasyim Medan, Selasa (14/11).

Kapolda mengakui, dirinya menerima banyak laporan terkait upaya penyelundupan narkotika dan barang ilegal yang masuk melalui perairan. Laporan seperti penyelundupan sabu di Kabupaten Batubara dan Pantai Cermin, Serdang Bedagai. Juga berbagai penyelundupan di Kota Tanjungbalai.

"Namun sudah beberapa upaya juga kami lakukan memberantasnya. Jika seluruh kapal dibariskan hanya bisa menutupi 17 kilometer. Sementara panjang garis pantai kita lebih dari 500 kilometer. Jadi banyak celahnya. Maka kami butuh peran serta nelayan," terangnya.

Dalam dialog itu, Kapoldasu bersama para pejabat utama seperti Kabid Humas Kombes Rina Sari Ginting, Kasat Brimob Kombes Zulfikar Tarius dan Direktur Polisi Air Kombes Sjamsul Bhadar mendengarkan aspirasi dari kelompok nelayan.

Apalagi terkait peredaran gelap narkotika, Kapolda Sumut memohon peran aktif para nelayan, khususnya yang di pesisir. Bantuan yang bisa diberikan para nelayan minimal dua hal. Pertama, membantu dengan tidak ikut terlibat terjerat mengonsumsi dan mengedarkan narkotika. Kedua, mengawasi perairan dan melaporkan jika ada narkotika, senjata dan barang-barang yang diselundupkan pihak tertentu melalui perairan.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda Sumut juga menampung berbagai aspirasi dari kelompok nelayan. Salah satunya, nelayan meminta pihak kepolisian dapat mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia agar membuat zonasi menangkap ikan dan zonasi larangan. Zonasi ini demi menghindari bentrokan antara nelayan besar dan kecil, serta masuknya nelayan dari bangsa asing lalu menangkap ikan di perairan Indonesia.

Mereka juga mengharapkan Polda Sumut memberi penyuluhan kepada nelayan-nelayan pesisir terkait bahaya narkotika.

"Kami berharap Polda Sumut sering melakukan penyuluhan dan sosialiasi kepada nelayan pesisir terkait narkotika," pinta Rahman Gafiki, salah seorang nelayan.

Sementara Ketua Asosiasi Pengusaha Perikanan Gabion Belawan (AP2GB), RB Sihombing, menyarankan agar Polda Sumut lebih memperhatikan aspek penjagaan di zona abu-abu (batas wilayah laut).

Kapolda Sumut Irjen Paulus Waterpauw berdialog dengan Kelompok Nelayan di Aula Benteng Hurada Markas Satuan Brimob, Jalan Wahid Hasyim Medan, Selasa (14/11).

Kapolda Sumut, Irjen Pol. Paulus Waterpauw, berdialog dengan kelompok nelayan di Aula Benteng Hurada Mako Brimob, Jalan Wahid Hasyim Medan, Selasa (14/11)

"Kami mendukung segala upaya kepolisian," timpalnya.

Wakil AP2GB Drs M Gultom meminta agar nelayan yang melakukan pelanggaran tidak sampai dibawa ke ranah hukum. Mereka juga siap bersinergi dengan pihak kepolisian dalam mengawasi masuknya narkoba ke wilayah Sumut.

Kapolda Sumut menanggapi saran dan masukan dari para nelayan dengan baik. Kegiatan berakhir dengan pemberian sembako serta cinderamata.

(dgh/eal)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar