Kapolda Sumut Resmikan Galeri Perdamaian Anti Paham Radikalisme

Kapolda Sumut Resmikan Galeri Perdamaian Anti Paham Radikalisme

Persesmian Galeri Perdamaian Anti Paham Radikalisme.

(jw/rzd)

Kamis, 1 November 2018 | 13:14

Analisadaily (Medan) - Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut) mendirikan galeri perdamaian di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang.

Peresmian galeri perdamaian dihadiri sejumlah pejabat utama Polda Sumut, Wakapolda Sumut, Brigjen Pol Mardiaz Kusin, Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dadang Hartanto, Dirkrimum Kombes Andi Rian, Dir Intelkam, Kombes Dedy Kusuma Bakti, Kabid Humas, Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja.

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto mengatakan, galeri ini didirikan untuk mencegah dan menekan paham radikalis dan bahaya teroris di masyarakat. Di galeri ini juga terdapat  gambaran atas aksi dan pasca aksi paham radikal dan teroris yang dapat merusak dan memecah belah NKRI.

"Saya meresmikan ini untuk mengingatkan kembali generasi muda dan masyarakat akan bahaya paham radikal dan teroris. Agar semua masyarakat sadar, Indonesia ini perlu dijaga dengan kedamaian," kata Kapolda, Kamis (1/11).

Agus juga meminta kepada eks pelaku kejahatan dan paham radikal untuk berkomitmen menjaga NKRI dari perpecahan dan terus menyosialisasikan bahaya paham tersebut kepada masyarakat.

"Kepada eks pelaku kejahatan dan paham radikal agar berkomitmen untuk menjaga NKRI," ucapnya.

Pimpinan Ponpes Al Hidayah Sei Mencirim dan Pimpinan Galeri Perdamaian, Ustaz Khairul Ghazali mengucapkan sangat berterimakasih kepada Kapolri, Kapolda Sumut, dan jajaran karena sudah membantu mendirikan galeri perdamaian ini.

"Awalnya, galeri ini hanya didirikan seadanya, berdinding tepas, beralaskan kayu, dan beratapkan rumbia. Namun sekarang sudah cantik dan berbasis teknologi digital. Saya berharap galeri perdamaian ini dapat membantu dan menyadarkan masyarakat yang sekarang ini sedang berada di kegelapan, yaitu menjalankan aktivitas radikal untuk memecah belah NKRI," ucapnya.

Ghazali yang juga mantan pelaku kejahatan atas kasus perampokan bank CIMB di Medan menyatakan, pernah berada di dalam kegelapan untuk berperang dengan negara mengatasnamakan agama Islam, sehingga membuat dirinya di penjara. Ternyata, aksi masa lalunya tersebut sangatlah salah.

"Saya menyesal melakukan aksi kejahatan dan di penjara saya mengetahui yang saya lakukan salah. Kini saya mendapat hidayah untuk menjaga persatuan dan Indonesia," ungkapnya.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar