Jejak Percobaan Kudeta Turki 50 Tahun Terakhir

Jejak Percobaan Kudeta Turki 50 Tahun Terakhir

Presiden Turki Tayyip Erdogan (REUTERS)

Sabtu, 16 Juli 2016 | 10:50

Jakarta (ANTARA News) - Turki sejak Jumat (15/7) malam setempat kembali diguncang aksi percobaan penggulingan kekuasaan yang sah oleh sebuah faksi di tubuh angkatan bersenjata setempat, yang diawali dengan penutupan dua jembatan penting di Istanbul.

Kemudian pengepungan dan pendudukan sejumlah fasilitas penting negara juga berusaha dilakukan oleh para pekudeta, dalam aksi yang juga menimbulkan baku tembak serta serangan bom terhadap gedung parlemen di ibu kota Ankara.

Presiden Recep Tayyip Erdogan yang tengah berlibur segera kembali ke Istanbul, menyerukan masyarakat turun ke jalan menolak kudeta serta bertolak kembali ke ibu kota, sebelum belakangan Perdana Menteri Binali Yildirim mengklaim keadaan sudah bisa dikendalikan dan menyebut kelompok pro Fethullah Gulen, seorang ulama Turki yang menetap di negara bagian Pennsylvania AS, sebagai dalang di balik percobaan kudeta tersebut.

Percobaan kudeta tersebut bukan kali pertama terjadi di Turki, setidaknya dalam 50 tahun terakhir tak kurang dari enam kali percobaan kudeta oleh tentara terjadi di Turki sebagaimana dilaporkan Reuters berikut.

1960

Pada 2 Mei berlangsung percobaan kudeta yang nyaris tanpa pertumpahan darah, dipimpin oleh sejumlah prajurit serta kadet dari akademi angkatan bersenjata di Istanbul dan Ankara.

Sehari setelahnya, pejabat Panglima Angkatan Darat Jenderal Cemal Gursel menuntut reformasi politik serta mengancam bakal mundur jika tuntutannya tak dipenuhi.

Para pemimpin membentuk Komite Persatuan Nasional beranggotakan 38 orang dengan Gursel diberi jabatan ketua. Sebanyak 601 orang pemerintahan lama diproses hukum oleh junta militer, 464 di antaranya divonis bersalah. Tiga mantan menteri termasuk Perdana Menteri Adnan Menderes dieksekusi mati oleh junta militer sementara 12 lainnya, termasuk Presiden Celal Bayar, vonisnya dikurangi dari hukuman mati menjadi penjara seumur hidup.

1971

Angkatan bersenjata mengirimkan sebuah peringatan kepada pemerintah untuk mengembalikan kekuasaan berlangsungnya kericuhan dan kekerasan jalanan antara sayap kiri dengan kubu nasionalis selama berbulan-bulan.

Beberapa bulan kemudian PM Suleyman Demirel (PM pertama terpilih lewat pemilihan demokratis selepas kudeta 1960) mengundurkan diri dan sebuah koalisi antara politisi konservatif dengan teknokrat dibentuk untuk masa pemulihan dengan pengawasan dari angkatan bersenjata.

Status darurat militer diberlakukan di beberapa provinsi dan belum semuanya disudahi hingga September 1973.

1980

Pada 12 September 1980 petinggi angkatan bersenjata yang dipimpin Jenderal Kenan Evren melangsungkan percobaan kudeta, menyusul kembali merebaknya kericuhan terbuka antara sayap kiri dengan kubu nasionalis.

Sejumlah politisi kesohor ditangkap, sementara parlemen, beberapa partai politik hingga serikat pekerja dibubarkan.

Dewan Keamanan Nasional beranggotakan lima orang mengambil alih kendali kekuasaan, mencabut konstitusi dan menerapkan konstitusi pengganti yang memberikan kewenangan hampir tak terbatas bagi petinggi angkatan bersenjata.

1997

Pada 18 Juni 1997 PM Necmettin Erbakan yang disebut oposan sebagai ancaman terhadap keberlangsungan paham sekuler di Turki mengundurkan diri dari jabatannya di bawah tekanan angkatan bersenajata, kalangan pebisnis, penegak hukum serta sesama politisi.

Pihak-pihak tersebut mengambil langkah bersama didasarkan semangat menjaga keberlangsungan negara sekuler yang diusung Mustafa Kemal Ataturk.

2007

Jaringan bawah tanah Ergenekon muncul pertama kali ke permukaan saat serpihan bahan peledak ditemukan dalam serangan di Istanbul. Belakangan ratusan orang diproses atas tuduhan percobaan kudeta terhadap PM Erdogan, 275 orang dari berbagai latar belakang termasuk pegawai, wartawan dan pengacara ditemukan bersalah.

Seluruh vonis tersebut dibatalkan setelah pengadilan banding memutuskan tidak pernah ada bukti keberadaan jaringan Ergenekon.

Erdogan yang pada 2014 naik jabatan menjadi Presiden Turki cenderung mendukung putusan pengadilan banding tersebut, namun belakangan menyalahkan polisi serta jaksa yang terkait dengan kelompok pro Fethullah Gulen, seorang ulama Turki yang mengasingkan diri ke negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, yang dianggap telah membuat-buat teori konspirasi Ergenekon tersebut. Gulen menyangkal tuduhan tersebut.

2010

Sebuah surat kabar mengungkap rencana kudeta, yang diberi kode Sledgehammer atau godam, yang direncanakan pada 2003 dengan sasaran menimbulkan kekacauan sosial demi menggulingkan kekuasaan Partai AK, partai Erdogan yang berbasis Islam.

Pada 2012, persidangan memenjarakan 300 dari 365 tertuduh. Dua tahun berselang hampir seluruh tahanan tersebut dibebaskan setelah Mahkamah Konstitusi Turki memutuskan terjadi pelanggaran hak asasi manusia terhadap mereka.

Lagi-lagi Gulen dan para pengikutnya dipersalahkan atas kasus tersebut, yang juga kembali mereka jawab dengan sangkalan keterlibatan.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar