Investigasi Wartawan Analisa Masuk Nominasi Internasional

Investigasi Wartawan Analisa Masuk Nominasi Internasional

Wartawan Analisa, Bambang Riyanto

(rel/csp)

Selasa, 22 Mei 2018 | 15:22

Analisadaily (Medan) - Karya investigasi kolaboratif wartawan Analisa di Medan, Bambang Riyanto dengan wartawan TEMPO di Nusa Tenggara Timur, Jhon Seo dan tim dari Malaysiakini.com masuk nominasi di ajang penghargaan pers internasional, SOPA Awards.

Investigasi itu tentang perdagangan manusia yang terjadi di antara dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia. Hasil terbit di Majalah TEMPO dan Malaysiakini.com dengan tajuk ‘Following the Illegal Indo-M'sia Maid Trade’.

Dan, karya invenstigasi ini masuk nominasi dengan kategori Excellence in Investigative Reporting, bersaing dengan Reuters berjudul ‘Duterte's Killer Cops’, dan The Associated Press (AP) ‘Pulp Giant Tied to Companies Accused of Fires’.

Serta The Wall Street Journal ‘China's All-Seeing Surveillance State is Everywhere’, R.AGE ‘Student/Trafficked’, Sixth Tone berjudul ‘Chinese Demand for Bloodwood Cuts Into Congo's Ecosystem’ dan dua lainnya media berbahasa mandarin.

SOPA Awards merupakan organisasi media nirlaba yang secara konsisten memberikan penghargaan kepada kerja-kerja media cetak dan daring sejak tahun 1999. Terdiri dari beberapa juri yang sepanjang tahun bekerja melihat liputan investigasi yang dihasilkan di 8 negara, mulai dari Asia Pasifik sampai Eropa.

Terkait peliputan, Bambang Riyanto menceritakan awal keterlibatannya dalam proses investigasi human trafficking.

"Berawal dari pemberitaan di Analisa bahwa ada tenaga kerja asal NTT yang lari dari tempat penampungan di Kecamatan Medan Johor," ujar Bambang, yang juga dosen luar biasa mata kuliah jurnalistik di Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU).

Dari situ, ia kemudian menyusun proposal peliputan untuk mendapatkan Fellowship Investigasi Bersama TEMPO (IBT) yang di 2013 didukung Free Press Unlimited dari Belanda. Setelah melewati proses seleksi ketat, dewan juri akhirnya memutuskan Bambang liputan investigasi kolaboratif bersama wartawan TEMPO di NTT, Jhon Seo dan pada perjalanannya kemudian menggandeng Malaysia Kini.

"Ini investigasi tim, tidak bisa dilakukan sendirian. Saya kebagian menyusuri alur perdagangan manusia mulai dari Medan, Batam dan Malaysia melalui jalur ilegal atau yang sering disebut sebagai jalur tikus. Saya sempat menyamar menjadi seorang TKI dan diinapkan di penampungan selama 3 hari 2 malam di Batam," kata asisten redaktur Harian Analisa ini.

Masuk nominasi di SOPA Awards, ia menerangkan, dinobatkan menjadi yang terbaik di kancah internasional tidak terlepas dari semua pihak yang mendukung. Tim investigasi TEMPO khususnya Stefanus Pramono yang menjadi mentor dan pimpinan Harian Analisa yang memberikan kesempatan dan dukungan.

"Menjadi nominasi dalam ajang internasional tentu sebuah kebanggaan. Saya harap bisa menang, namun kalaupun tidak, ini adalah pencapaian yang luar biasa. Artinya, kerja dan karya kita diapresiasi, dan yang lebih penting bisa menciptakan regulasi dan pengawasan yang lebih baik untuk TKI tanpa harus lagi menyabung nyawa demi menafkahi keluarga," tuturnya.

Saat ini nominasi SOPA Awards untuk beberapa kategori sedang memasuki babak penjurian tahap akhir. Pemenang akan diumumkan pada 13 Juni 2018, dan bila berhasil menjadi pemenang, Bambang dan Jhon akan bertolak ke Hongkong.

(rel/csp)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar