Investigasi Jatuhnya Pesawat AirAsia QZ8501 Selesai, Ini Rekomendasi KNKT

Investigasi Jatuhnya Pesawat AirAsia QZ8501 Selesai, Ini Rekomendasi KNKT

(dtc)

Rabu, 2 Desember 2015 | 06:33

detikNews - Jakarta, KNKT telah merilis hasil investigasi dari jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata. Dari hasil temuan dan analisis, KNKT pun memiliki rekomendasi terhadap pihak-pihak terkait.

Penyebab jatuhnya pesawat buatan Airbus dari Prancis ini sudah dipastikan bukan dikarenakan faktor cuaca atau pun masalah perizinan. Saat pesawat rute Surabaya-Singapura tersebut hilang kontak pada 28 Desember 2014 lalu, sempat ada spekulasi bahwa pesawat mengalami insiden karena terjebak di awan cumulonimbus.

"Dari flight  data recorder (FDR) yang kita analisa, kita tidak melihat ada indikasi faktor cuaca dalam kecelakaan ini. Atau sebagai yang berkontribusi dalam kecelakaan ini jadi kita menyatakan bahwa faktor cuaca tidak berpengaruh," ungkap Plt Subkomite Kecelakaan Penerbangan Kapten Nurcahyo Utomo.

Hal tersebut disampaikannya dalam jumpa pers di Kantor KNKT, Jl Medan Merdeka Timur, Jakpus, Selasa (1/12/2015). Ia juga menyatakan permasalahan slot izin yang sempat dipermasalahkan juga bukan menjadi faktor penyebab kecelakaan.

"Retakan solder pada electronic module di RTLU (rudder travel limiter unit) menyebabkan hubungan yang berselang dan berakibat pada masalah yang berkelanjutan dan berulang," kata Cahyo menjelaskan pemicu awal jatuhnya pesawat.

KNKT pun merekomendasikan kepada Airbus agar memperbaiki kualitas komponen yang ada di pesawat. Dalam hal ini adalah RLTU yang ternyata riskan rusak akibat seringnya mengalami perubahan cuaca suhu yang ekstrem dari dingin ke panas, dan juga sebaliknya. RLTU adalah bagian dari sistem kemudi pesawat.

Faktor kedua yang berkontribusi adalah sistem perawatan pesawat dan metode analisa di perusahaan, dalam hal ini AirAsia, yang belum optimal. Di mana dalam hal ini adalah tidak adanya aturan pilot melaporkan setiap kerusakan atau permasalahan saat penerbangan sehingga menjadikannya tidak terselesaikan dan terus berulang.

"Sehingga tidak dapat mendeteksi kerusakan berulang-ulang dan interval kerusakan makin sering. Dari catatan sudah terjadi kerusakan yang sama sebanyak 23 kali selama satu tahun pada pesawat itu," ucapnya.

Hal lain yang menjadi faktor jatuhnya QZ8501 adalah pilot yang melakukan improvisasi. Ini dilakukan setelah 3 kali melakukan perbaikan sesuai prosedur, gangguan RLTU kembali terjadi. Improvisasinya adalah dugaan pilot me-reset ulang circuit breaker (CB) dari flight augmentation computer (FAC).

"Terputusnya arus listrik pada FAC menyebabkan autipilot disengage, flight control logic berubah dari normal ke alternate law, rudder bergerak 2 derajat ke kiri. Kondisi ini mengakibatkan pesawat berguling (roll) mencapai sudut 54 derajat," tutur Cahyo.

Adanya semacam miskomunikasi termasuk bagaimana kedua pilot tidak bisa saling mengetahui apa yang sedang dilakukan saat recovery juga menjadi faktor yang berkontribusi dalam hal ini. Itu dikarenakan sistem kendali 2 kemudi yang tidak saling terkait, sehingga saat keadaan genting pilot dan kopilot sama-sama tidak bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh pihak lain.

"Kalau ada input pada kendali secara bersamaan maka akhirnya jadi penjumlahan. Bila ditarik 5 dan didorong 5 hasilnya jadi 0. Ini yang menyebabkan kekosongan input dan menyulitkan pilot karena tidak tahu sebelah melakukan apa," tegas Cahyo yang menyebut ada kekosongan input kendali selama 9 detik pada QZ8501 akibat teori ini.

Kemudian faktor lain yang berkontribusi pada insiden nahas tersebut yakni kegagalan pilot mengendalikan pesawat. Ini dikarenakan pilot tidak memiliki kapasitas ketika sudah terjadi upset condition dan akhirnya menyebabkan pesawat stall secara berkepanjangan.

"Sehingga berada di luar batas-batas penerbangan (flight envelope) yang dapat dikendalikan oleh awak pesawat," ujar Cahyo.

Dalam investigasi kecelakaan yang menewaskan 162 orang tersebut, KNKT mendapat bantuan dari Australia Trannsport Safety Bureau, Bureau d'Enquetes e d'Analyses (BEA), Aircraft Accident Investigation Board (Singapura), dan Ministry of Transportation (Malaysia) yang bertindak sebagai accredited representatives. KNKT juga dibantu oleh Airbus sebagai pihak yang membuat pesawat.

Adapun rekomendasi yang dikeluarkan KNKT berdasarkan hasil rekomendasi adalah sebagai berikut:

(dtc)

(dtc)

Untuk AirAsia

Membuat standar prosedur komunikasi terutama pada saat pesawat di atas ketinggian 10 ribu dari permukaan laut. Ini dilakukan agar ada terminologi antar pilot, sehingga tidak terjadi interpretasi yang salah.

Agar dilatihnya pilot untuk bagaimana mengambil alih kendali dari 1 pilot kepada pilot yang lain. Atau dengan kata lain metode mengambil alih kemudi dari pilot ke kopilot atau sebaliknya.

Untuk Direktorat Perhubungan Udara Kemenhub

Agar melakukan training kepada awak pesawat sesuai dengan buku petunjuk atau aturan yang ada. Lalu agar ada aturan yang mewajibkan setiap maskapai memiliki sistem yang mampu mendeteksi dan memperbaiki kerusakan berulang.

Ketiga adalah agar ketentuan atau peraturan International Civil Aviation Organization (ICAO) dicantumkan di tiap-tiap pesawat. Juga termasuk tentang pilot in command. Ditjen Perhubungan Udara juga diminta agar mewajibkan pilot untuk melaporkan setiap kerusakan yang terjadi pada pesawat usai penerbangan. Ini untuk mencegah adanya pengulangan gangguan atau kerusakan sehingga dapat ditangani lebih optimal.

(dtc)

(dtc)

Untuk Airbus

Agar membuat metode yang efektif pada sistem kendali. Lalu membuat metode pencegahan untuk membatasi kreativitas atau improvisasi pilot di luar prosedur yang akan berdampak pada penerbangan. 

Selain itu pabrikan asal Prancis ini diminta untuk memberikan pelatihan kepada seluruh pilot di seluruh dunia yang memegang lisensi Airbus ketika menghadapi upset condition. Dengan adanya upset recovery training, menurut KNKT, maka pilot akan mampu mengembalikan posisi atau sikap pesawat yang tidak wajar.

Untuk pihak lainnya

Terdapat rekomendasi kepada FAA atau Federal Aviation Administration (USA) dan European Aviation Safety Agency (EASA). Yakni KNKT mendukung rekomendasi BEA yang merupakan KNKT-nya Prancis, agar dibuat program pelatihan pengambilalihan pesawat dengan kemudi yang tidak saling terkait.

"Hasil investigasi dan rekomendasi KNKT sudah diberikan kepada pihak-pihak terkait minggu lalu. Sampai hari ini kita tidak menerima tanggapan," tukas Cahyo.

KNKT pun disebut Cahyo sudah mendapat laporan dari AirAsia Indonesia mengenai perbaikan-perbaikan yang telah mereka lakukan. Setidaknya ada 51 perbaikan setelah terjadinya kecelakaan QZ8501 pada 28 Desember 2014 itu.

"Mereka sudah melakukan 51 perbaikan atas kecelakaan. 22 di bidang operasional seperti pelatihan personel dll. 11 di bidang perawatan seperti tentang prosedur post fligt report, 18 peningkatan kemampuan metereologi yang bekerja sama dengan BMKG," papar mantan pilot Boeing itu.

"Namun demikian ada hal yang masih kita minta tambahkan jadi kita minta untuk dibuat soal prosedur. Intinya KNKT tidak mencari siapa yang salah tapi apa penyebabnya dan ke depan perbaikannya harus seperti apa. Jadi kalau ada yang nanya (kecelakaan) salah siapa, saya nggak tahu," tutup Cahyo. (elz)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar