Ini Penjabaran Psikolog Soal Kecanduan Permainan PUBG

Ini Penjabaran Psikolog Soal Kecanduan Permainan PUBG

Ilustrasi game Player Unknown’s Battle Ground, Jumat (19/7)

(jw/csp)

Jumat, 19 Juli 2019 | 14:59

Analisadaily (Medan) - Permainan game online sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang termasuk untuk kaum remaja. Salah satu game yang lagi digendrungi anak-anak sekolah dan remaja, Player Unknown’s Battle Ground atau disingkat PUBG.

Terkait itu, Psikolog di Kota Medan, Irna Minauli mengatakan, PUBG sangat berbahaya, karena harus dimainkan secara terus-menerus tanpa jeda. Mereka pecandu games ini khawatir jika permainan terjeda karena akan kehilangan kesempatan mendapat hadiah besar di saat-saat tertentu.

"Menurut saya, kecanduan bermain games ini berpengaruh besar pada gangguan tidur, karena sudah tidak lagi mengenal waktu, seperti gangguan penglihatan, fungsi hati, menjadi hiper aktif, menurunnya konsentrasi, menunda-nunda pekerjaan, hingga menjadi pemarah serta cenderung menjauh dari hubungan sosial," kata Irna Minauli kepada Analisadaily.com, Jumat (19/7).

Irna Minauli menuturkan, mayoritas game online banyak dimainkan anak laki-laki. Akibatnya mereka lebih rawan mengalami gaming disorder (kecanduan gawai).

"Secara keseluruhan tingkat kecanduan anak laki-laki memang masih tergolong ringan. Tapi, kalau tidak diantisipasi maka dikhawatirkan akan semakin parah," tuturnya.

Ciri-ciri dari kecanduan game PUBG, kata dia, antara lain Preokupasi yaitu anak tidak bisa terlepas dari gadget dan selalu memikirkan tentang games, Simptom Withdrawl atau sakaw, anak merasa gelisah dan tidak nyaman kalau tidak bermain games.

"Selain itu juga dapat merusak otak. Bahkan games PUBG ini seperti sakaw, yakni jika tidak bermain maka merasa dirinya tidak nyaman," ungkapnya.

Lebih lanjut, Irna Minauli menjelaskan, selain itu pengguna juga mempunyai ciri lain, seperti Tolerance, atau kebutuhan untuk bermain games semakin lama intensitas waktunya atau tingkat kekerasan serta tantangan yang meningkat. Menarik diri secara sosial.

"Mereka juga hanya terpaku pada kelompok bermain games saja serta ada masalah sosial, pendidikan dan pekerjaan. Mereka juga sering mencuri dan membolos," ucapnya.

"Sementara, untuk hal negatif dari games seperti PUBG adalah timbulnya FOMO (Fear of Missing Out) sehingga hal ini yang membuat mereka tetap terpaku," sambung Irna.

Sebenarnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram, karena kecanduannya sudah sama seperti narkoba dan judi, yang lama-kelamaan akan menyebabkan gangguan mental.

"Namun, sepertinya tidak dipedulikan oleh masyarakat. Sementara, untuk di Sumut saat ini sepertinya di Medan masih lebih tinggi," tambahnya.

(jw/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar