Induk Orangutan Ditembak, YOSL-OIC Akan Tuntut Pelaku

Induk Orangutan Ditembak, YOSL-OIC Akan Tuntut Pelaku

Petugas melakukan penyelamatan terhadap induk orangutan yang ditembaki warga di Subulussalam, Aceh (Ist-YEL SOCP)

(jw/eal)

Kamis, 14 Maret 2019 | 17:02

Analisadaily (Aceh) - Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama personel WCS-IP dan HOCRU-OIC mengevakuasi Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) yang terluka akibat ditembak di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, Sabtu (9/3) kemarin.

Ketua Yayasan Orangutan Sumatera Lestari Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), Panut Hadi Siswoyo, mengatakan bahwa informasi tersebut mereka dapat dari masyarakat. Menurutnya hari Minggu (10/3) timnya berhasil mengevakuasi orangutan yang terdiri dari anak dan induk di desa tersebut.

"Dari pemeriksaan awal diketahui bahwa induk orangutan itu dalam kondisi terluka parah terkena benda tajam pada tangan kanan, kaki kanan serta punggung. Selain itu, kedua mata induk orangutan terluka parah karena tembakan senapan angin. Sedangkan bayi orangutan yang berumur 1 bulan dalam kondisi kekurangan nutrisi parah dan shock berat," kata Panut di Medan, Kamis (14/3).

Anak orangutan yang tewas di Subulussalam, Aceh

Anak orangutan yang tewas di Subulussalam, Aceh

Melihat kondisi induk orangutan yang cukup parah, petugas kemudian membawanya ke Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, yang dikelola Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) melalui Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP) untuk dilakukan perawatan intensif. Namun dalam perjalanan anak orangutan mati diduga karena malnutrisi.

"Dari hasil pemeriksaan x-ray di pusat karantina orangutan, ditemukan peluru senapan angin sebanyak 74 butir yang tersebar di seluruh badan," jelas Panut.

"Ini sangat tragis hanya karena pelaku mau mengambil anaknya, pelaku tega menembaki induknya," ucapnya.

Kondisi tubuh orangutan yang penuh tembakan

Kondisi tubuh orangutan yang penuh tembakan

Menurut Panut, induk orangutan terus mempertahankan anaknya, tetapi saat terdesak dan terisolasi di kebun sawit, ruang geraknya menjadi terbatas dan akhirnya anak orangutan diambil.

"Kami akan menuntut proses hukum pelaku yang tega melakukan perbuatannya," tegas Panut.

Atas peristiwa itu, BKSDA Aceh telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum LHK untuk mengusut tuntas kasus kematian bayi Orangutan Sumatera dan penganiayaan induknya.

(jw/eal)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar