Hari Keenam Pasca Gempa, 387 Orang Meninggal Dunia

Hari Keenam Pasca Gempa, 387 Orang Meninggal Dunia

Distribusi logistik dilakukan Ti SAR Gabugan menggunakan helikopter (BNPB)

Sabtu, 11 Agustus 2018 | 13:57

Analisadaily (Lombok) - Hari keenam pasca gempa bumi dengan magnitudo 7 yang mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Bali, Badan Nasional Penanggulangan Bencana terus mengintensifkan penanganan.

Melalui pesan Whatsapp, Kepala pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menginformasikan, jumlah korban meninggal dunia tercatat 387 orang yang tersebar di beberapa daerah.

Sebaran korban meninggal dunia ada di Kabupaten Lombok Utara 334 orang, Lombok Barat 30 orang, Lombok Timur 10, Kota Mataram 9, Lombok Tengah 2, dan Kota Denpasar 2 orang.

“Diperkirakan jumlah korban meninggal akan bertambah karena diduga masih ada yang tertimbun longsor dan bangunan roboh, dan adanya korban meninggal belum didata dan dilaporkan ke posko,” kata Sutopo seperti yang diterima Analisadaily.com, Sabtu (11/8).

“Di Kabupaten Lombok Timur kemarin dilaporkan 11 orang meninggal dunia, tapi setelah diverifikasi ternyata terjadi pencatatan ganda. Satu korban dilaporkan 2 kali karena menggunakan nama panggilan dan nama lengkap,” sambungnya.

Korban luka-luka sebanyak 13.688 orang, dan pengungsi tercatat 387.067 jiwa tersebar di ribuan titik. Ratusan ribu jiwa pengungsi, termasuk di Kabupaten Lombok Utara 198.846 orang, Kota Mataram 20.343 orang, Lombok Barat 91.372 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.

Tanggap Darurat Diperpanjang

Sutopo menambahkan, masa penanganan harusnya berakhir pada hari ini, Sabtu (11/8), namun mempertimbangkan banyaknya masalah penanganan dampak gempa, Gubernur Nusa Tenggara Barat memutuskan untuk memperpanjang masa tanggap darutat selama 14 hari.

Terhitung sejak besok, Minggu (12/8) sampai Sabtu (25/8). Adapun sejumlah permasalahannya, seperti adanya korban yang harus dievakuasi, pengungsi yang belum tertangani dengan baik, gempa susulan terus berlangsung.

Menurut Sutopo, angka pengungsi bisa berubah-ubah karena banyak pengungsi yang pada siang hari kembali ke rumah atau menengok kebunnya, tetapi pada malam hari kembali ke pengungsian. Selain itu, belum semua titik pengungsi terdata.

“Juga, terdapat sebagian warga yang harusnya tidak perlu mengungsi karena kondisi rumah masih berdiri kokoh tanpa kerusakan, tetapi ikut mengungsi karena trauma dengan gempa,” tambahnya.

Sedangkan kerusakan fisik masih sama jumlahnya, yaitu 67.875 unit rumah rusak, 468 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak. Angka ini juga sementara.

Pendataan dan verifikasi masih dilakukan petugas. Pendataan dan verifikasi rumah diprioritaskan agar terdata jumlah kerusakan rumah dengan nama pemilik dan alamat untuk selanjutnya di-SK-kan Bupati/Walikota dan diserahkan ke BNPB untuk selanjutnya korban menerima bantuan stimulus perbaikan rumah.

Distribusi Logistik Terhambat

Hingga saat ini, masih terdapat beberapa pengungsi yang belum mendapat bantuan, khususnya di Kecamatan Gangga, Kayangan dan Pemenang yang aksesnya sulit dijangkau. Juga, di beberapa titik di Lombok Barat.

“Permasalahan utama adalah distribusi logistik karena jalan menuju pengungsian rusak. Sebagian besar jalan di Lombok Utara mengalami kerusakan. Oleh karena itu, percepatan distribusi logistik jadi prioritas, selain pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi,” ujarnya.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda, selimut, makanan siap saji, beras, MCK portable, air minum, air bersih, tendon air, mie instan, pakaian, terpal/alas tidur, alat penerang/listrik, layanan kesehatan dan trauma healing.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar