Hanya Ada 12 Ekor Badak Sumatera Teridentifikasi di TNGL

Hanya Ada 12 Ekor Badak Sumatera Teridentifikasi di TNGL

Kuliah umum menyerukan Hari Badak Nasional di FMIPA USU diharapkan dapat membangun kesadaran mahasiswa untuk berkontribusi dalam menyelamatkan hewan langka seperti badak Sumatera, harimau Sumatera dan orang utan Sumatera, Senin (28/9)

(sty/jpp)

Senin, 28 September 2015 | 12:25

Analisadaily (Medan) - Kuliah umum yang dilaksanakan di Aula 1 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU juga dirangkai dalam menyerukan Hari Badak Sedunia, Medan, Senin (28/9).

Dalam kuliah umun ini TNGL memberikan pengetahuan kepada peserta kuliah umum dalam peningkatan dan melakukan pencegahan kepunahan badak Sumatera.

Berdasarkan penelitian yang di publikasikan dari Wildlife Conservation Society (WCS), badak Sumatera hanya menempati 237.100 hektar di bentang alam Leuser, 63.400 hektar Taman Nasional Way Kambas dan 82.000 hektar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Dari 3 juta hektar dipulau Leuser, hanya 13 persen area yang dihuni oleh badak Sumatera.

Kuswondono selaku Kepala Bidang Teknis Konsevarsi Taman Nasional Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, menyampaikan bahwa populasi badak Sumatera telah mengalami penurunan. Di pulau Sumatera sendiri hanya berada di Taman Nasional Gunung Leuser, itu pun hanya ada 12 individu yang teridentifikasi menggunakan kamera trap yang dipasang di area TNGL

Untuk mengetahui adanya individu badak dilihat dari penelitian yang dilihat dari jejak kaki dan kubangan tanah. Ada juga penelitian, penerapan analisis, optimalisasi kerja sama yang akan di lakukan dalam penyelamatan dan pelestarian TNGL.

Wulan Pusparini selaku penerapan kebijakan penyelamatan spesies badak di WCS (Wildlife), orang utan dan harimau. Pemantauan populasi melalui pendekatan survey occupancy dan survey DNA.

"Kurangnya populasi badak Sumatera, hanya ada 2 populasi di pulau Sumatera dan Kalimantan.
Populasi badak sumatera harus diupayakan karena populasinya yang tidak banyak. Dalam pemantauan populasi badak Sumatera menggunakan DNA, yang biasanya digunakan untuk konservasi gajah. Untuk melakukan DNA menggunakan lapisan paling luar badak seperti kotoran badak,” katanya.

Noviar Andayani selaku Country Director Wildlife Conservation Society, menegaskan populasi badak Sumatera akan punah, apabila tidak ada upaya penyelamatan yang dilakukan, mulai dari mengidentifikasi, dan dalam penelitian harus diterapkan secara formal dalam upaya peningkatan penegakan hukumnya.

(sty/jpp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar