GEMAR: Hak Buruh Perempuan Harus Lebih Diperhatikan

GEMAR: Hak Buruh Perempuan Harus Lebih Diperhatikan

Komunitas GEMAR

(jw/eal)

Rabu, 1 Mei 2019 | 19:55

Analisadaily (Medan) - Berbagai kegiatan dilakukan kaum buruh di Sumatera Utara dalam memperingati Hari Buruh Internasional (May Day). Ada yang menggelar aksi unjuk rasa, aksi teatrikal hingga bersuka cita dalam panggung hiburan.

Namun berbeda dengan mamak-mamak (ibu-ibu-red) yang tergabung dalam Gerakan Mamak-mamak Rajut (GEMAR). Mereka memperingati Hari Buruh dengan menggelar diskusi dan merajut bersama di Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Rabu (1/5).

Ketua GEMAR Aur, Arsini, mengatakan bahwa dalam peringatan Hari Buruh tahun ini, perjuangan hak buruh perempuan sangatlah penting. Karena perempuan merupakan salah satu ujung tombak dalam keluarga.

"Sebagian dari kami kan ada yang bekerja jadi buruh juga. Sambil kerja mereka buat rajutan untuk nambah penghasilan bagi keluarga. Karena perempuan itu merupakan ujung tombak di dalam keluarga," kata Arsini.

Saat ini, sambung Arsini, mencari penghasilan sangat susah. Perempuan harus bisa lebih kreatif untuk menambah penghasilan keluarga.

"Dengan merajut ini lah kreatif kita muncul untuk bisa menghasilkan uang. Apalagi merajut ini merupakan seni tangan yang hasil rajutannya memiliki nilai ekonomis," tuturnya.

Sementara itu pembina GEMAR, Badriyah menjelaskan, diskusi dan merajut yang dilakukan pada May Day ini merupakan perkumpulan yang dihadiri oleh mamak-mamak dari 4 distrik yang tergabung dalam Gemar, yakni Gemar Aur, Gemar Sunggal, Gemar Belawan dan Gemar Amplas.

"Pertemuan kami hari ini selain silaturahmi antar distrik, kami juga merasa perlu diskusi tentang hak buruh perempuan" jelas Badriyah yang juga merupakan Ketua YAFSI.

Badriyah mengungkapkan bahwa hal lain yang menjadi sorotan ialah luputnya aspirasi memperjuangkan hak dan perlindungan bagi kaum perempuan oleh serikat buruh.

"Isu-isu yang berkaitan dengan hak dan perlindungan pekerja perempuan sering terlupakan, padahal perempuan memiliki sisi kerentanan yang berbeda dengan laki-laki sehingga perlu adanya perhatian dan proteksi tersendiri," ungkapnya.

"Selain itu juga, sampai saat ini masih ada upah murah untuk perempuan. Padahal posisi kerjanya sama dengan laki-laki," tukas Badriyah.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar