Empat Orangutan Sumatera Kembali Dilepasliarkan ke Hutan Jantho

Empat Orangutan Sumatera Kembali Dilepasliarkan ke Hutan Jantho

Satu dari empat orangutan yang dilepasliarkan ke Hutan Jantho (YEL-SOCP)

(rzp/eal)

Kamis, 15 November 2018 | 20:43

Analisadaily (Aceh) - Yayasan Ekosistem Lestari melalui Program Konservasi Orangutan Sumatra (SOCP) kembali mengirim empat Orangutan Sumatera ke Pusat Reintroduksi Orangutan di Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Keempat orangutan itu adalah Leo, Ully, Cut Luwes dan Aruna.

Supervisor Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan YEL-SOCP, Citrakasih mengatakan, keempat orangutan tersebut telah menjalani proses karantina dan rehabilitasi di Stasiun Karantina & Rehabilitasi Orangutan yang dikelola SOCP di Desa Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Leo merupakan orangutan jantan muda berusia sekitar 6,5 tahun. Leo disita oleh BKSDA Aceh dan Orangutan Information Centre (OIC) di Aceh Tamiang pada Maret 2016 dari seorang warga yang memeliharanya di rumah.

Kemudian Leo dititipkan BBKSDA Sumut ke Pusat Karantina & Rehabilitasi SOCP untuk menjalani proses karantina & rehabilitasi.

"Saat tiba di SOCP, Leo dalam keadaan malnutrisi dan terserang penyakit kulit di hampir seluruh tubuhnya. Setelah dua tahun dalam proses rehabilitasi, Leo kini dinilai layak untuk menjalani kehidupan selanjutnya di hutan Jantho," kata Citra, sapaan akrabnya, Kamis (15/11).

Sementara Ully salah satu orangutan yang diselamatkan dari perdagangan satwa liar pada Juli 2016 dalam operasi gabungan antara Kepolisian RI dan Centre for Orangutan Protection (COP). Ully diselundupkan dari Aceh Selatan dan dimasukkan dalam karung goni, sementara tiga bayi orangutan lainnya ditempatkan dalam satu kandang.

Lewat penelusuran Polisi dan COP, penyelundup ini dapat ditangkap di Medan. Ully dan ketiga orangutan lainnya yang lebih muda dari Ully dititipkan ke SOCP. Saat ini Ully sudah dalam proses kembali ke alam, sementara ketiga temannya masih terus dalam perawatan & pelatihan staff SOCP untuk dipersiapkan agar kelak bisa kembali ke alam seperti Ully di masa depan.

Selain Leo dan Ully, ada Cut Luwes, orangutan betina muda yang disita dari masyarakat di Gayo Lues, Aceh Tengah, pada Juni 2015 oleh BKSDA Aceh dan Orangutan Information Centre (OIC). Ketika pertama kali tiba di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan SOCP, Cut Luwes terlihat sangat kurus dan dehidrasi.

"Perlu waktu sekitar 3 tahun bagi SOCP untuk merawat dan merehabilitasi Cut Luwes, baik secara fisik dan mental, agar Cut Luwes dapat beradaptasi dengan baik di hutan Jantho nantinya," ucapnya.

Terakhir dari grup ini adalah Aruna. Orangutan betina muda yang saat ini berusia sekitar 7 tahun. Aruna merupakan orangutan yang disita oleh BKSDA Aceh dari salah seorang warga di Kluet, Aceh Selatan, pada Maret 2015. BKSDA Aceh kemudian menyerahkan Aruna ke Stasiun Karantina & Rehabilitasi Orangutan SOCP untuk direhabilitasi.

"Karena keadaan Aruna yang terbiasa dengan manusia, perlu waktu sekitar 3 tahun bagi tim SOCP untuk mengembalikan kemampuan Aruna hidup di alam lewat proses rehabilitasi," terang Citra.

Seperti diketahui, anak orangutan liar biasa akan bersama-sama induknya sampai usia sekitar 8-9 tahun untuk belajar segala pengetahuan yang diperlukan agar dapat hidup mandiri di alam. Proses rehabilitasi sangat penting dilakukan bagi orangutan piatu sebelum dilepasliarkan agar saat dilepasliarkan kembali ke hutan mereka juga mampu beradaptasi dengan baik.

"Keempat orangutan itu akan bergabung dengan banyak orangutan lain yang telah direintroduksi sebelumnya di Jantho, Aceh," tandasnya.

(rzp/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar