Ekspor Komoditas Pertanian, Musa: Petani Harus Untung

Ekspor Komoditas Pertanian, Musa: Petani Harus Untung

Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah menyampaikan sambutan saat pelepasan ekspor komoditas pertanian, Rabu (27/3)

(rel/csp)

Rabu, 27 Maret 2019 | 13:12

Analisadaily (Deliserdang) - Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah berharap, kegiatan ekspor tidak hanya menguntungkan eksportir saja, tetapi juga petani. Selama ini ekpsor malah tidak terlalu berdampak terhadap petani, walau ekspornya tinggi.

Hal tersebut disampaikannya saat melepas ekspor komoditas pertanian di Jl. Kompos No.110 A Km 12 Desa Puji Mulyo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang, Selasa sore (26/3).

Kali ini, melalui PT. Sari Makmur Tunggal Mandiri, Sumut mengekspor komoditas pertanian sebanyak 4.730.6 ton yang bernilai Rp116.43 miliar.

Data Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, ekspor terdiri dari biji kopi 819.36 ton, kelapa parut 170 ton, gambir 270 ton, karet lempengan 443.52, kayu manis 100 ton, lidi 234.81 ton, minyak sawit 1736.4 ton, pinang biji 913 ton, teh 43.52 ton dan kayu oak putih 148.95 ton.

Adapun negara tujuan ekspor, di antaranya Jepang, Kanada, Belgia, Meksiko, Amerika Serikat, Taiwan, Inggris, Cina, Jerman, Australia Singapura, Spanyol, Mesir dan juga negara Afrika serta Amerika Selatan.

Hadir pada pelepasan itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian RI, Sumarjo Gatot Irianto, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian RI, Ali Jamil, dan Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Bambang Haryanto.

Ada juga Kepada Dinas Perkebunan Pemprov Sumut,  Herawati, serta Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AIKI) Sumut, Saidul Alam.

“Kita tentu bisa berbangga karena ekspor dari Sumatera Utara berjalan dengan baik. Kali ini kita melepas komoditas pertanian, sebelumnya Gubernur melepas kol di Tanah Karo. Saya juga sebelum ini melepas sarang burung wallet. Jadi ini yang ketiga, itu prestasi yang sangat luar biasa,” kata Musa.

Kendati begitu, lanjut Musa, ada hal yang perlu diperhatikan, khususnya untuk petani. Sebab beberapa petani sudah mengeluhkan harga komoditas yang mereka produksi.

“Saya kemarin berbincang dengan pengumpul lidi. Dia tidak mengumpulkan lidi lagi karena harganya tidak murah. Padahal kalau saya lihat di data ekspor lidi cukup bagus. Jadi, saya berpikir ini di mana salahnya. Mngkin ini karena mereka menjual ke tengkulak atau semacamnya,” ujarnya.

Oleh karena itulah, petani perlu diberi informasi mengenai harga komoditas mereka saat diekspor. Sehingga tidak dipermainkan tengkulak, dan mereka juga harus diedukasi untuk memenuhi standar ekspor.

“Ini perlu kita perhatikan khususnya dinas-dinas di Pemerintah Sumut, nanti kita akan cari solusinya bersama-sama,” tegas Musa.

Sedangkan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian RI, Sumarjo Gatot Irianto, menekankan agar ekspor dari Sumatera Utara meningkat satu level lagi karena selama ini kita lebih sering mengekspor bahan-bahan mentah dan setengah jadi.

“Saya berharap kita bisa mengintensifkan ekspor kita dan naik satu kasta lagi. Kita ekspor bahan olahan, bukan bahan mentah lagi, karena harganya akan lebih tinggi nantinya. Selain itu, lebih banyak melakukan pelatihan kepada pengusaha eksportir muda,” ujarnya.

Selain itu, dia juga mengatakan, Indonesia akan mencari pasar-pasar ekspor karena persaingan di negara-negara Eropa atau negara yang sudah biasa menjadi target impor semakin sulit persaingannya.

“Jadi, untuk memperlancar ekspor, kita mencari negara-negara yang tidak biasa. Eropa sudah menjadi pengimpor besar sehingga semakin ketat peraturannya. Jadi, lebih baik kita mencari pasar lain yang peraturannya tidak serumit dan setinggi mereka,” tambahnya.

Pada kesempatan itu, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian RI, Ali Jamil memperkenalkan aplikasi ‘Imace’. Aplikasi yang real time menyediakan data ekspor komoditas pertanian.

Aplikasi ini diberikan kepada Wakil Gubernur Sumut oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian RI. Aplikasi ini diharapkan bisa menjadi pertimbangan Pemerintah Sumut dalam mengambil kebijakan soal komoditas tanaman pangan.

(rel/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar