Diprediksi Hanya Gerindra dan PKS yang Kompak Jadi Oposisi

Diprediksi Hanya Gerindra dan PKS yang Kompak Jadi Oposisi

(dtc)

Jumat, 22 Agustus 2014 | 15:16

detikNews - Jakarta, Setelah MK menolak gugatan Prabowo-Hatta, koalisi merah-putih pendukung Prabowo-Hatta menyerukan bakal jadi partai penyeimbang. Namun diprediksi hanya Gerindra dan PKS yang bakal kompak jadi oposisi. Kenapa?

"Di luar Gerindra dan PKS, terbuka kemungkinan buat partai pendukung koalisi merah putih untuk merapat ke Jokowi-JK," kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, kepada detikcom, Jumat (22/8/2014).

Yunarto lantas menjelaskan alasannya, PPP dari awal sudah terpecah suaranya dalam menentukan dukungan politik kepada Prabowo-Hatta. Momentum muktamar yang akan mengganti posisi Ketum Suryadharma Ali, menurutnya akan dengan sendirinya mengubah arah halauan politik dari PPP.

"Untuk Golkar kita tahu bahwa partai ini memang memiliki genetik hidup hanya dalam lingkaran kekuasaan, ditambah lagi kenyataan bahwa dukungan terhadap Prabowo-Hatta juga dilakukan dalam kondisi terpaksa karena adanya kegagalan negosiasi dengan kubu Jokowi. Momentum penentuan akan terjadi pasca Munas yang saya perkirakan akan dilakukan awal tahun depan," kata Yunarto.

"Sulit Munas dilakukan sebelum pelantikan Jokowi-JK, mengingat tingkat kepatuhan kepada DPP masih akan tinggi saat ini karena adanya kebutuhan dukungan DPP untuk pemilihan alat kelengkapan di DPR, DPRD 1 ataupun DPRD 2," lanjutnya.

Selain itu Partai Demokrat juga sangat terbuka untuk merapat kepada pemerintahan terpilih. Kebutuhan seorang mantan presiden untuk berhubungan baik dengan presiden terpilih menurutnya akan jadi faktor utama yang menjembatani kedua belah kubu.

"Apalagi Jokowi tidak memiliki sentimen historis buruk dengan SBY seperti yang dialami oleh Megawati. Disisi lain pengalaman yang masih "hijau" dari teman-teman Demokrat untuk menjadi pihak oposisi juga akan menjadi salah satu pertimbangan," terangnya.

"PAN sendiri menurut saya terbuka untuk merapat ke Jokowi-JK, atau minimal tidak memposisikan dirinya menjadi oposisi, mengingat partai ini dibawah kepemimpinan Hatta Rajasa lebih terbiasa untuk menjadi bagian dari kekuasaan. Posisi politik Partai Demokrat menurut saya juga akan ikut mempengaruhi pilihan politik PAN ke depan," imbuh Yunarto.

Meski demikian, momentum untuk merapat mungkin akan terjadi setelah ada suksesi di 2015 nanti, mengingat ada beban moral dan etika Hatta Rajasa sebagai cawapres Prabowo.

"Tapi secara umum partai-partai ini cenderung lebih berpeluang untuk bermain dua kaki, bukan menempatkan posisi partainya secara ekstrim sebagai oposisi atau pendukung pemerintah, mengingat Jokowi dari awal menekankan koalisi yang tidak berkaitan dengan koalisi yang terbangun, sehingga kecil harapan yang bisa diberikan buat partai-partai tersebut apabila menginginkan kursi menteri sebagai bentuk kompensasi," pungkasnya. (van/try)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar