Dipilih Sebagai ‘Pilot Project’, Humbang Hasundutan Memiliki Potensi Pariwisata Besar

Dipilih Sebagai ‘Pilot Project’, Humbang Hasundutan Memiliki Potensi Pariwisata Besar

(Foto: Istimewa)

(rel/rzd)

Sabtu, 22 September 2018 | 09:37

Analisadaily (Humbang Hasundutan) - Menteri Pariwisata, Arif Yahya menjelaskan, Kabupaten Humbang Hasundutan dipilih sebagai Pilot Project, karena selain berlokasi di Danau Toba, wilayah ini juga salah satu dari 10 Destinasi Wisata prioritas nasional yang memiliki potensi pariwisata yang besar.

Danau Toba yang dijuluki 'Monaco of Asia', Geopark Kaldera Toba, yang saat ini dalam proses meraih penghargaan dari UNESCO dalam bidang geologi, biologi, dan kebudayaan, serta Sipinsur yang merupakan puncak vegetasi tanaman pinus.

Selain itu, juga ada Air Terjun Janji yang merupakan air terjun di kawasan Danau Toba sebagai tempat para raja-raja Batak terdahulu berikrar atau berjanji dalam kesetiaan di masa perang, dan objek wisata budaya lainnya.

"Sejalan dengan itu, Presiden Joko Widodo, yang memprioritaskan pembangunan infrastruktur tiga tahun terakhir, kini memfokuskan pengembangan sumber daya manusia,"‎ jelas Arief, ditulis Analisadaily.com, Sabtu (22/9).

Hal yang sama juga disampaikan Direktur Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo. Dikatakan, dengan adanya pengembangan Homestay dan Tourist Guide di Humbang Hasundutan akan menunjang pembangunan ekonomi masyarakat dan tentunya kualitas wisata di Kawasan Danau Toba.

"BPODT berharap dengan penumbuhan kewirausahaan ini dapat menarik minat wisatawan guna meningkatkan kunjungan ke Danau Toba," ujarnya.

Sebelumnya Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menggelar launching ‘Pilot Project Homestay dan Tourist Guide’ di Desa Tipang, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kamis (20/9).

Menteri Pariwisata Arif Yahya mengatakan, beberapa tahun terakhir terjadi proses transformasi ekonomi nasional, dengan mengandalkan sumber daya alam (SDA) yang dapat menciptakan nilai tambah (value added) tinggi.

"Salah satu prioritas yang didorong dan berpotensi meningkatkan value added adalah sektor pariwisata. Sektor ini tidak hanya meningkatkan devisa nasional, tapi juga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar," ungkapnya.

‎Menurut Menpar, dalam hal penumbuhan wirausaha, pemerintah membuat pilot project penumbuhan kewirausahaan pada Homestay dan Tourist Guide di Humbang Hasundutan.

Arief Yahya menilai, kewirausahaan bisa dibangun dengan modal yang tidak terlalu besar, sehingga seluruh lapisan masyarakat didorong menjadi wirausaha.

"Permintaan wisatawan, baik asing maupun domestik, terhadap Homestay dan Tourist Guide terus meningkat," jelas Arief.

Enam Kementerian Dilibatkan

Menpar Arief Yahya menerangkan, konsep Solusi Sementara Sebagai Solusi Selamanya (5S) dalam Nomadic Tourism merupakan solusi terbaik untuk saat ini. Pilot project pengembangan homestay dan tour guide sendiri melibatkan enam kementerian ditambah Bekraf.

Ada Kemenpar, Kemenkominfo, Kemenkop dan UKM, Kemendikbud, Kementerian PU dan PERA, hingga Kementerian Desa dan PDTT. Fungsi kementerian ini berbeda. Misalnya Kemenpar. Fokusnya itu, pembuatan paket wisata, panduan, dan juga bimbingan teknis (bimtek).

Untuk diketahui, pengembangan homestay sendiri sebenarnya sudah dilakukan pada 2017. Melalui program stimulan konversi di Danau Toba, unit kamar yang dikonversi ada 254.  Jumlah ini dihasilkan dari 5 desa di sekitar Danau Toba.

Ada Desa Sigapiton, Batiraja, Sibandang, Tuktuk, dan Tomok. Strategiyang dijalankannya bimtek layanan homestay desa wisata. Dijalankan juga standardisasi fasilitas homestay.

"Kami optimistis, melalui pilot project ini akan memberi dukungan efektif bagi Humbang Hasundutan. Pariwisata di kawasan ini akan terus tumbuh. Ujungnya, perekonomian daerah dan kesejahteraan rakyat ikut terkatrol. Yang jelas, berbagai upaya ini ujungnya menaikan kesejahteraan warga," pungkasnya.

(rel/rzd)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar