Dampak KJA, 80 Persen Air di Haranggaol Tercemar

Dampak KJA, 80 Persen Air di Haranggaol Tercemar

Perairan Danau Toba

(jw/csp)

Selasa, 26 Maret 2019 | 14:45

Analisadaily (Medan) - Keberadaan Keramba Jaring Apung (KJA) di perairan Danau Toba, membuat air di danau vulkano tersebut tercemar.

Direktur Utama Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba (BPODT), Arie Prasetyo mengatakan, ada satu daerah di kawasan Danau Toba yang airnya sudah tercemar, yakni Haranggaol di Kabupaten Simalungun.

"Airnya tercemar hingga 80 persen. Agar tidak mencemari lingkungan maka kepadatan keramba harus dikurangi," kata Arie, Selasa (26/3).

Arie menjelaskan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan stakeholder terkait pernah melakukan pembahasan ‎soal kondisi air Danau Toba yang tercemar akibat KJA di Universitas DEL di Kabupaten Toba Samosir.

"Di dalam rapat itu peneliti LIPI tersebut menjelaskan, area yang benar-benar tercemar, salah satu nya Haranggaol. Itu dihitung dari tingkat pencemaran, tapi jika dihitung dari jumlah keramba masih ada area yang airnya relatif aman,” sambungnya.

"Untuk penertiban pasti ada, saat ini kami telah melakukan sosialisasi dan tahun ini juga kita akan lakukan penertiban, dan mana yang punya ruang tumbuh. Tapi kedepannya, akan dikontrol atau dikurangi secara signifikan," ungkapnya.

BPODT fokus pada apa yang akan disiapkan dan bagaimana menguranginya. Pemerintah hadir untuk menyiapkan mitigasi terhadap masyarakat yang dulu jadi petani sekarang jadi apa.

"Nah, nanti akan kita pindahkan ke darat. Kenapa, karena segala sesuatu yang ada di danau itu lebih susah di kontrol. Seperti kita buka restoran apung itu susah kita mengontrol limbahnya karena kita tidak bisa setiap hari mengontrol itu, tapi kalau dipindahkan ke darat kita lebih mudah untuk mengontrol limbah yang masuk ke danau," tuturnya.

Arie menyebut, LIPI sudah mendata, menghitung dan melihat juga lewat penginderaan jarak jauh atau remote censing dari foto udara jumlah totalnya kira-kira ada ribuan.

Contohnya dari perusahaan Swiss, mereka ada tiga farm, tiga lokasi. Perlokasi itu mereka punya 80 kotak keramba. Jadi, kalau tiga itu ada 240 keramba plus satu perusahaan lagi ada 80 keramba dan totalnya ada sekitar 320 keramba serta punya masyarakat yang lain.

"Dengan skema itu, rata-rata paling parah 80 persen dan sisanya 20 persen. Karena, dari angka produksi punya perusahaan lebih produktif dari masyarakat," pungkas Arie.

(jw/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar