Buron 11 Tahun, Terpidana Kasus Pasar Horas Diamankan Usai Sarapan

Buron 11 Tahun, Terpidana Kasus Pasar Horas Diamankan Usai Sarapan

Henry Panjaitan (tengah) saat diamankan tim gabungan dari Kejati Sumut dan Kejari Siantar di Kota Medan

(jw/eal)

Selasa, 23 April 2019 | 21:25

Analisadaily (Medan) - Tim gabungan intelijen dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Siantar meringkus seorang buronan dalam kasus pembangunan kios darurat Pasar Horas Pematangsiantar pada tahun 2002.

Pelaku bernama Henry Panjaitan yang dinyatakan sebagai buronan sejak 11 tahun lalu akhirnya diamankan di Kota Medan.

"Terpidana 4 tahun penjara itu bernama Ir. Henry Panjaitan. Dia dinyatakan buron sejak 2008," kata Kasi Penkum Kejati Sumut, Sumanggar Siagian, Selasa (23/4).

Sumanggar menjelaskan, pelaku diamankan pagi tadi sekitar pukul 7.30 WIB di sebuah warung kopi, Jalan Sei Silau, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan.

"Yang bersangkutan sudah masuk dalam pemantauan kita sejak 17 April kemarin. Saat itu tim melihat yang bersangkutan melakukan pencoblosan tak jauh dari rumahnya di Jalan Sei Asahan. Namun tim kita gagal melakukan penangkapan saat itu," jelasnya.

Pada saat diamankan, pelaku saat itu sedang sarapan. "Jadi memang selama 11 tahun terpidana yang dalam kasus ini sebagai rekanan kerap berpindah-pindah Jakarta dan Medan sehingga menyulitkan kita melakukan eksekusi," ucap Sumanggar.

Sementara Kepala Kejari Pematangsiantar, Ferziansyah Sesunan, menuturkan bahwa sebelum dimasukan dalam daftar buronan, Henry pada tahun 2002 dinyatakan bebas oleh Pengadilan Negeri Siantar. Namun kemudian jaksa langsung mengajukan Kasasi.

"Nah pada tahun 2005, putusan kasasi keluar dan menghukum Henry dengan pidana 4 tahun penjara dan denda sebesar Rp 200.000.000 subsider 6 bulan penjara dan membayar uang pengganti sebesar Rp 247 juta," tuturnya.

Namun jaksa pada saat itu tidak langsung mengeksekusi Henry lantaran salinan putusan kasasi belum diterima. Kemudian pada tahun 2008 barulah jaksa menerima salinan putusan tersebut.

"Namun pada saat kita eksekusi, tersangka sudah melarikan diri," ujar Ferzi.

Belakangan Henry diketahui mengubah identitasnya termasuk alamat rumah. 

"Terpidana melakukan pergantian data identitas, tempat tanggal lahir dan alamat tempat tinggal pada rekam e-KTP. Dia mengubah namanya menjadi Hasudungan," ungkap Ferzi.

Untuk diketahui, Henry Panjaitan merupakan Direktur CV Vini Vidi Vici. Dia ditetapkan menjadi terpidana dalam tindak pidana korupsi pembangunan kios darurat pasar Horas Pematang Siantar TA. 2002 yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 679.496.74.

Dalam kasus ini Henry tidak sendirian. Mantan Walikota Siantar, Marin Purba, juga terlibat dan sudah dihukum pidana penjara.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar