BUMN Didorong Perkuat Budaya Ramah Dalam Menjalankan Bisnis

BUMN Didorong Perkuat Budaya Ramah Dalam Menjalankan Bisnis

Staf Khusus II Menteri BUMN, Bambang Eka Cahyana, ujian akhir disertasi promosi doktor di Program Doktor Ilmu Administrasi dengan konsentrasi Ilmu Administrasi Bisnis  di Universitas Brawijaya Malang (Ist)

(jw/rzd)

Jumat, 4 Oktober 2019 | 11:37

Analisadaily (Malang) - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai perlu memperkuat budaya ramah (Hospitable culture) dalam menjalankan roda bisnis, terlebih bagi BUMN yang bergerak di sektor pelayanan publik.

Hospitable culture yang dimaksud, yakni kemampuan memberikan pelayanan dan ikatan yang optimal kepada setiap pemangku kepentingan sebagai orientasi hospitaliti yang strategis.

Hal tersebut diungkapkan Staf Khusus II Menteri BUMN, Bambang Eka Cahyana, usai menyampaikan paparan dalam ujian akhir disertasi promosi doktor di Program Doktor Ilmu Administrasi dengan konsentrasi Ilmu Administrasi Bisnis  di Universitas Brawijaya Malang.

Menurut Bambang Eka, selain mengejar keuntungan, penting bagi BUMN untuk bisa menetapkan tujuan lain yang mencakup kepentingan aspek ekonomi, sosial, politik negara, dan lingkungan, yang melibatkan partisipatif masyarakat sebagai wujud pelayanan maksimal perusahaan kepada masyarakat.

"Hospitable culture penting bagi BUMN karena ini merupakan suatu kapabilitas yang harus dimiliki BUMN di tengah perubahan landscape bisnis yang terjadi. Tanpa hospitable culture, BUMN akan mengalami kesulitan jangka panjang dalam menjalankan bisnis dan sulit dalam mempertahankan reputasi korporasi," katanya, Jumat (4/10).

Dalam disertasinya, Bambang mengungkapkan saat ini banyak BUMN yang hospitalitinya masih bisa lebih ditingkatkan. Merujuk pada sampel disertasinya pada BUMN bidang kepelabuhan, Bambang Eka menyatakan, diperlukan transformasi organisasi bagi sebuah perusahaan untuk mencapai hospitable culture yang optimal.

Dalam transformasi terdapat dua faktor penting bagi BUMN. Pertama pada aspek kepemimpinan strategik yang harus mengadopsi prinsip ambidextrous leadership yang mampu menyeimbangkan orientasi jangka pendek dengan orientasi jangka panjang. Kedua yaitu tata kelola organisasi yang membuka ruang bagi partisipasi publik dalam penetapan kebijakan strategis.

"BUMN juga harus mampu benar-benar menunjukkan bahwa perannya sudah mencerminkan prinsip transparansi dan akuntabel. Serta membuka partisipasi publik dalam tata kelola perusahaan, harus di buka ruang kepada publik. Sehingga dapat dengan cepat mendorong transformasi organisasi  di aspek kepemimpinan stratejik, tata kelola korporasi, perbaikan budaya korporasi, infrastuktur bisnis dan keselarasan korporasi," sebut Bambang.

Disertasi Bambang Eka berjudul 'Transformasi Organisasi Sebagai Determinan Corporate Hospitality dan Pengaruhnya terhadap Corporate Sustainability Melalui Reputasi Korporasi'. Variabel yang diuji secara empiris yakni kepemimpinan stratejik, budaya organisasi, tata kelola korporasi, infrastruktur bisnis, keselarasan korporasi sebagai determinan corporate hospitality.

Penelitian yang dilakukan menghasilkan model corporate sustainability yang bersifat lebih terintegrasi dan simultan, dimana konsep transformasi organisasi diletakkan sebagai determinan corporate hospitality. Selain itu, kepemimpinan stratejik juga menjadi pendorong terkuat pembentukan corporate hospitality.

"Semoga disertasi ini dapat menjadi sumber informasi untuk merancang strategi dan kebijakan perusahaan dalam rangka mendorong pertumbuhan bisnis dan terwujudnya corporate sustainability di BUMN. Sekaligus menjadi solusi kongkrit dalam memastikan bahwa praktik bisnis perusahaan tidak memicu dampak negatif lingkungan, sosial dan ekonomi," tutup Bambang Eka.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar