BPS Lakukan 4 Hal Tingkatkan Pertumbuhan Data Statistik Pertanian

BPS Lakukan 4 Hal Tingkatkan Pertumbuhan Data Statistik Pertanian

Program Nasional Ketahanan Pangan 2018.

Senin, 29 Oktober 2018 | 21:57

Analisadaily (Medan) - Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia melakukan empat hal untuk meningkatkan pertumbuhan data statistik pertanian.

Kepala BPS RI, Suhariyanto, ditemui di sela-sela acara Pemantapan Statistik Pertanian dan Program Nasional Ketahanan Pangan 2018 di Hotel Grand Mercure, Kota Medan, mengatakan, khusus untuk ketahanan pangan, pada tahun 2018 ini memang ada beberapa yang dikerjakan.

“Yang pertama BPS mengerjakan dengan melakukan yang namanya Sutas atau survei antar sensus pertanian. Biasanya kalau kita melakukan sensus pertanian itu 10 tahun sekali. Di sana nanti kita bisa melihat jumlah rumah tangga petani menurut golongan gurem itu penting,” katanya, Senin (29/10).

Suhariyanto menyebut, misalnya saja jika dari sensus pertanian 2013 lalu, diketahui bahwa 55 persen rumah tangga tani ternyata petani gurem.

“Kalau petani gurem biasanya menguasai lahan setengah hektare, sehingga bagaimana para petani tersebut bisa hidup sejahtera,” sebutnya.

Selain Sutas, BPS juga melakukan kerangka sampel area yang kemarin hasilnya dirilis untuk memperbaiki data beras. Kemudian BPS juga melakukan survei konversi dari gabah dengan beras.

“Jadi kita datang ke sawah, ketika petani panen, kemudian ketika panen ada susutnya atau tidak. Sesudah susut di sana kemudian dibawa ke rumah, di pengangkutan ada susutnya. Kemudian sesudah dijemur lalu digiling. Jadi beras ada susutnya. Itu yang kita ikuti dalam survei konversi tersebut,” terangnya.

Untuk survei konversi yang terakhir dilakukan BPS menggunakan data dari kementerian terkait dan sudah dijelaskan, jika mengacu pada tahun 2013 luas baku lahan sebesar itu 7,75 juta hektare.

“Tetapi sesudah dilakukan pemetaan yang baru, ternyata ada pengurangan luas baku lahan sawah yang terjadi menjadi 7,1 juta hektare,” tuturnya.

Diungkapkannya, ada juga ubinan. Dan itu digunakan untuk mengukur rata-rata produksi per hektare dari padi.

“Jadi kalau empat ini bisa dilakukan, diharapkan ke depan data statistik pertanian akan semakin akurat dan kalau itu bisa dilakukan, kebijakan akan menjadi lebih bagus,” tandasnya.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar