BNPT RI: Guru Harus Jadi Agen Anti Radikalisme

BNPT RI: Guru Harus Jadi Agen Anti Radikalisme

Forum Harmoni digelar BNPT dan Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara, Kamis (22/8)

(rzp/csp)

Kamis, 22 Agustus 2019 | 18:42

Analisadaily (Medan) - Virus radikalisme dapat menjangkiti siapa saja tanpa memandang batasan usia, bahkan anak usia dini sekalipun rawan terjangkiti. Guru, khususnya guru agama, strategis menghempang masuknya paham negatif itu ke anak-anak.

Guru harus jadi agen anti radikalisme. Hal ini disampaikan Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Andi Intang Dulung, dalam Forum Harmoni dari Sekolah di Hotel Miyana, Deli Serdang.

Kegiatan yang digelar BNPT dan Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Sumut ini menghadirkan narasumber Guru Besar UIN Sumut, Prof Syahrin Harahap, Ketua FKPT Sumut, Zulkarnain Nasution, dengan moderator anggota FKPT, Syofyan Harahap, yang juga Ketua DHD PWI Sumut.

"Seperti kita pahami bersama, guru memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk pikiran, keyakinan, dan prinsip seorang manusia. Radikalisme sebaiknya kita hindarkan sejak awal, agar sewaktu dewasa kita tidak repot menghadapinya," kata Prof Syahrin Harahap, Kamis (22/8).

Dengan demikian, dimulai dari sekolah. Guru memiliki kearifan, dan kearifan ini perlu diarahkan pada penciptaan kehidupan yang harmonis, dan menghindarkan radikalisme dalam berbagai bentuk di dalam situasi serta pelaksanaan pengajaran.

"Di situ saya kira strategisnya langkah dari BNPT-FKPT ketika menyosialisakan bagaimana pencegahan radikalisme di kalangan guru. Kita harus melihat masa depan," ujarnya.

Ketua FKPT Sumut, Zulkarnain Nasution menyebut, ketika seorang guru telah terinfiltrasi radikalisme, maka akan sangat berbahaya. Karena guru akan dimanfaatkan jaringan kelompok radikal terorisme sebagai pintu masuk kepada anak.

Faktor kedua dan yang tidak boleh disepelekan masuknya radikalisme melalui pintu orang tua dan pengasuh. Infiltrasi radikalisme melalui pengasuh tidak mudah untuk dideteksi, sehingga pelaku penyebar paham negatif itu banyak memanfaatkan orang tua untuk menulari anak-anaknya.

"Berbeda bila melalui oknum guru yang lebih mudah dideteksi dengan sistem dan mekanisme pencegahan, seperti yang telah dijalankan Kemendikbud maupun BNPT," sebutnya.

Faktor ketiga penyebaran melalui dunia siber. Saat ini kemajuan informasi teknologi menjadi kebutuhan yang tidak bisa dibendung lagi. Di sisi lain, dunia siber yang tanpa batas ini juga sangat rentan menjadi pintu masuk jaringan kelompok radikal teroris.

Selanjutnya faktor melalui jaringan. Kelompok atau orang yang telah menjadi anggota kelompok radikal terorisme akan bergerilnya dengan berbagai macam cara untuk merekrut calon-calon pengantin untuk melakukan teror.

"Sementara faktor lainnya melalui buku pelajaran," Zulkarnain menandaskan.

(rzp/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar