BNPB: Titik Panas Turun Kualitas Udara Membaik

BNPB: Titik Panas Turun Kualitas Udara Membaik

Peta titik panas (BNPB)

(rel/csp)

Selasa, 1 Oktober 2019 | 09:13

Analisadaily (Jakarta) - Pantauan Bada Nasional Penanggulangan Bencana berdasarkan citra satelit Modis-catalog LAPAN, Senin (30/9), pukul 18.00 WIB menunjukkan, kualitas udara membaik seiring dengan turunnya jumlah titik panas (hotspot) di Sumatera dan Kalimantan.

Titik panas cenderung akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turun seperti di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Masih banyak titik panas atau hot spots di Kalimantan Selatan.

Namun demikian, kualitas udara yang diukur dengan PM 2.5 menunjukkan tingkat baik. Data terakhir (30/9) mencatat titik panas berjumlah 673. Titik panas tertinggi teridentifikasi di Kalimantan Selatan dengan 141 titik, Kalimantan Tengah 63, Sumatera Selatan 63 dan Jambi 15, sedangkan Riau dan Kalimantam Barat tidak terdeteksi adanya hot spot.

Luasan hutan dan lahan di seluruh wilayah Indonesia sejak awal tahun 2019 yang terbakar mencapai 328.724 ha. Sementara itu, karhutla juga masih terjadi di kawasan Gunung Merbabu dan Sumbing di Jawa Tengah.

Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) terus berlangsung baik di Sumatera maupun di Kalimantan. Pada hari Senin kemarin dikerahkan 2 pesawat di Sumatera dan 2 Pesawat di Kalim dengan total garam yang ditabur sejumlah 9.600 kg.

Salah satu hasilnya hujan turun di  sebagian besara wilayah Riau (Indragiri Hulu, Dumai, Pelalawan, Kuansing, Indragiri Hilir, Siak, Rokan Hulu dan Rokan Hilir), Jambi (Merangin, Sarolangin), Kalbar (Pontianak, Singkawang, Sintang, Melawi), Kalsel (HST, HSS), dan Kalteng (Palangkaraya, Barito Selatan dan Lamandau).

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan, kecenderungan titik panas yang turun harus terus dipertahankan sehingga masyarakat dapat menghirup udara sehat dan beraktivitas di luar rumah.

“Hujan yang turun secara optimal dapat dimanfaatkan untuk membasahi gambut dengan sekat kanal dan embung. Gambut perlu dikembalikan ke kodratnya yaitu basah dan berair sehingga tidak mudah terbakar. Usaha pembahasan gambut ini perlu dilakukan terus menerus sehingga tahun depan tidak terjadi kebakaran lagi,” ujar Agus, Selasa (1/10).

(rel/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar