BNPB Terbangkan Drone Untuk Pemetaan Longsor Ponorogo

BNPB Terbangkan Drone Untuk Pemetaan Longsor Ponorogo

Bencana longsor di Ponorogo, Jawa Timur. (BNPB).

(rel/rzd)

Senin, 3 April 2017 | 14:54

Analisadaily (Ponorogo) - Operasi SAR untuk menemukan 26 korban yang masih tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, terus dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Sebanyak lebih dari 1.500 personil tim SAR gabungan terus mencari korban. Sebanyak 7 alat berat dikerahkan. Operasi pencarian dilakukan dengan membagi 3 sektor, yaitu sektor A untuk kedalaman timbunan longsor 17-20 meter dikoordinir oleh Basarnas, sektor B oleh TNI, dan sektor C oleh Polri.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, luasnya landaan longsor, maka BNPB bersama BIG (Badan Informasi Geospasial) dan Badan Geologi menerbangkan drone atau pesawat tanpa awak untuk memetakan daerah longsoran guna membantu kaji cepat operasi tanggap darurat.

“Peta ini digunakan untuk menjelaskan lebih detil mengenai luas dan dampak longsoran. Selain itu, dengan pemetaan detil melalui drone dapat dilihat secara langsung kemungkinan adanya daerah-daerah lain berpotensi longsor susulan,” kata Sutopo, Senin (3/4).

Disebutkannya, hasil pemetaan dan survei di lapangan menunjukkan bahwa jenis longsor di Ponorogo adalah longsor translasi, yaitu longsor yang disebabkan adanya pergerakan massa tanah dan bebatuan yang terdapat di bidang gelincir berbentuk rata.

Retakan di perbukitan yang terbentuk pada 11 Maret 2017 kemudian terus melebar sehingga terjadi longsor pada 1 April 2017. Dari mahkota longsor meluncur menghantam dinding bukit di depannya.

Adanya perbedaan morfologi menyebabkan material longsor berbelok ke arah kiri meluncur dan menerjang permukiman mengikuti lereng. Jarak antara mahkota longsor dengan titik terakhir landaan longsor sekitar 2 kilometer.

“Lebar landaan sekitar 200 meter dan tebal longsoran 20 meter. Inilah salah satu yang menyebabkan sulitnya pencarian korban tertimbun longsor,” sebutnya.

Sutopo menjelaskan, penggunaan drone untuk penanggulangan bencana bukanlah hal yang baru. Untuk kebutuhan kaji cepat yang efektif, drone sangat bermanfaat. Keluwesan terbang drone, baik vertikal maupun horizontal dalam jangkauan tertentu, serta kemampuan mengambil gambar dari ketinggian tertentu, drone telah menawarkan gambar atau landscape berbeda dalam melihat peristiwa bencana.

“Sebuah studi yang dilakukan Palang Merah Amerika menyebutkan, drone adalah salah satu teknologi baru yang paling menjanjikan dan ampuh untuk meningkatkan respon bencana,” jelasnya.

Bahkan saat ini, lanjutnya, drone banyak juga digunakan oleh media massa dalam peliputan bencana karena drone memiliki potensi yang besar dalam menyiarkan berita kepada publik. Mereka dapat menggunakan perangkat ini untuk melaporkan berita dari berbagai perspektif.

“Gambar dan video yanhg dihasilkan dari drone menjadi sumber informasi yang penting bagi pemerintah selaku pemegang keputusan, dan juga bagi masyarakat dalam angka memberikan informasi, edukasi dan menumbuhkan kesiapsiagaan,” terangnya.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar