BNN Ungkap TPPU Terkait Peredaran Narkoba di Medan

BNN Ungkap TPPU Terkait Peredaran Narkoba di Medan

BNN ungkap Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terkait narkoba di Kota Medan, Kamis (27/4).

(jw/rzp)

Jumat, 27 April 2018 | 00:27

Analisadaily (Medan) - Aliran dana dan benda yang bernilai miliaran rupiah diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di Kota Medan.

Pengungkapan terkuak setelah tertangkapnya pengedar narkoba jalanan. Dari ungkapan itu, petugas berhasil mengungkap Tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait peredaran narkoba.

"Setelah memeriksa jalur dan alur keuangan sindikat ini, kita melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang terlibat. Jumlah tersangka ada 8 orang, 5 orang untuk tindak pidana narkotika dan 3 orang tindak pidana pencucian uang,” kata Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari di Medan, Kamis (26/4).

Arman menjelaskan, ketiga tersangka kasus TPPU yang diamankan yaitu Susianto alias Boyek, Yudi Ardi Marta, dan Nona Misa Fitri. Susianto merupakan napi yang mendekam di Lapas Tanjung Gusta.

"Kasus pencucian uang ini berawal dari penangkapan yang dilakukan BNN Kota Tebing Tinggi terhadap Sardian alias Dian Narko. Dari tangannya disita 6 paket sabu-sabu dengan total berat sekitar 2,5 gram. Dari komunikasi yang terlacak dari HP tersangka, petugas menangkap Yopi Yolanda, yang berperan sebagai pengantar narkotika milik Adil Putra Marpaung alias Memeng," jelas Arman.

Arman mengungkapkan, Adil Putra Marpaung merupakan napi yang mendekam di Lapas Narkotika Kelas II Pematang Siantar di Raya, Simalungun. Setelah data komunikasi dan transaksi rekeningnya dibuka PPATK, didapati peran pengelola keuangan atau bendahara, Rosdiana alias Dedek, merupakan kakak kandung Andi.

Selain itu ditemukan pula nama Nona Misa Fitri dan suaminya, Yudi Ardi Marta, yang juga diduga sebagai pengelola uang untuk peredaran narkoba. Keduanya ditangkap dengan banruan BNN Provinsi Bali.

"Dari penelusuran itu, kasus tersebut berkembang ke tersangka di Lapas Tanjung Gusta atas nama Susianto alias Boyek," ujar Arman.

Arman juga menceritakan, saat Susianto dijemput di Lapas Tanjung Gusta, petugas sempat menggeledah kamarnya. Ditemukan 25 gram sabu-sabu, 3 butir pil ekstasi, timbangan digital, brankas, bilyet giro, dan sejumlah HP.

"Kita temukan tabungan dan surat deposito yang isinya kurang lebih Rp 2 miliar. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara terhadap Susianto dan bendahara pengelola keuangannya, Yudi Ardi Marta, kelompok ini diduga berafiliasi dengan kelompok yang ada di Jakarta," ujarnya.

Penyelidikan Sejak 2012

Direktur Pemberantasan PPATK, Irjen Pol Firman Shantyabudi menambahkan, setelah diselidiki sejak 2012, total terdapat 420 orang yang pernah bertransaksi dengan kelompok ini.

"Total aliran dana yang kita temukan berjumlah Rp 60 miliar," ucapnya.

Dari penelusuran yang dilakukan BNN, disita uang dan sejumlah barang yang diduga terkait tindak pidana pencucian uang yang dilakukan Susianto Cs.

"Barang bukti yang diamankan berupa 7 buku tabungan besera kartu ATM dan catatan mutasi rekening, HP Samsung, uang tunai Rp 5.650.936.129, dan 3 unit rumah permanen yang ditaksir bernilai Rp 1,5 miliar, 1 unit mobil Toyota Cayla, 1 unit mobil Toyota Starlet, 1 koli sepatu bermacam ukuran dan 1 koli pakaian yang dibeli dari Bandung untuk dijual kembali," tuturnya.

BNN masih mengembangkan kasus ini. Para tersangka dijerat dengan Pasal 137 dan Pasal 138 UU 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan hukuman mati dan Pasal 2, 3 dan 4 UU No 8 Tahun 2010 tentang pemberantasan TPPU.

(jw/rzp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar