BBPOM Sita Produk Obat Tradisional dan Kosmetik Berbahaya

BBPOM Sita Produk Obat Tradisional dan Kosmetik Berbahaya

Kepala BBPOM Medan, Yulius Sacramento Tarigan di lokasi penggrebekan, Kamis (18/7)

(jw/csp)

Kamis, 18 Juli 2019 | 18:25

Analisadaily (Medan) – Petugas Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan menggerebek sebuah rumah yang menyimpan dan menjual produk-produk obat tradisional serta bahan kosmetik berbahaya di Jalan Garu III, Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas, Kamis (18/7).

"Kami dapat informasi dari masyarakat, ada produk yang dicurigai bermasalah dan kita pun menemukannya di gudang dan rumah seorang warga," kata Kepala BBPOM Medan, Yulius Sacramento Tarigan di lokasi penggrebekan.

Sacramento menuturkan, petugas menemukan produk illegal yang tidak terdaftar dan mengandung bahan berbahaya seperti obat tradisional dan produk kosmetik. Dari sana tim mengamankan lebih dari 70 jenis produk obat tradisional dan ribuan  kosmetik.

"Beberapa jenis obat-obatan yang kita amankan di antaranya adalah Teh Mahkota Dewa, Powder Datar Lollen, Collagen Plus, Greeng Jos Kopi Bapak, King kobra Oil dan Kopi jantan," sambung Sacramento.

Tim BBPOM melakukan penyelidikan selama kurang lebih dua Minggu, untuk memastikan apakah tempat yang menjadi sasaran benar tempat ilegal.

“Tempatnya tidak resmi. Ini bukan distributor. Tapi, pelaku meng-order ke Jawa, namun di kirim dari tempat lain. Awalnya hanya jenis madu, belakangan pelaku mulai menjual obat-obatan ilegal dan kosmetik," paparnya.

Dikhawatirkan ada produk bermasalah di sini, apalagi sistem perdagangan tidak terbuka. Konsumen langsung ambil barang. Oleh karena itu, barang ini diamankan supaya tidak beresiko beredar dan di konsumsi masyarakat.

Atas perbuatannya, pelaku bisa dijerat pasal 197 UU RI No 36 tahun 2009 ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, dengan denda 1.5 miliar.

Seorang laki-laki berinisial R (45) yang diketahui sebagai pemilik tempat penyimpanan obat-obatan dan kosmetik ilegal itu mengakui, dirinya sudah menjual produk-produk tersebut selama dua tahun.

"Saya sudah dua tahun jual obat-obatan. Memang selama ini saya enggak paham jual obat-obatan itu dan saya juga enggak memikirkan dampaknya kesana," ucapnya.

(jw/csp)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar