BAZNAS: Ini Cara Membayar Zakat Fitrah dan Fidyah

BAZNAS: Ini Cara Membayar Zakat Fitrah dan Fidyah

Ilustrasi (foto internet)

(jw/csp)

Senin, 11 Juni 2018 | 21:21

Analisadaily (Medan) - Wakil Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Sumatera Utara, H. Syu'aibun mengatakan, tidak lama lagi Ramadan akan berakhir. Itu artinya, kewajiban Zakat Fitrah pun juga harus disegerakan.

Ia menyebutkan, penyerahan zakat paling lambat sebelum shalat Id diselenggarakan. Bila dilakukan setelah shalat 'Id, maka zakat yang diserahkan dinilai sebatas sedekah biasa.

"Tinggal beberapa hari lagi Idul Fitri dan umat Islam pasti akan membayar Zakat Fitrah. Karena, adalah  itu kewajiban individu kepala keluarga," kata Syu’aibun, Senin (11/6).

Zakat fitrah adalah zakat yang harus ditunaikan bagi seorang muzakki yang telah memiliki kemampuan. Ini wajib dikeluarkan sekali setahun yaitu saat bulan Ramadan menjelang Idul Fitri.

“Pada prinsipnya, Zakat Fitrah dikeluarkan sebelum sholat Idul Fitri dilangsungkan. Hal tersebut yang menjadi pembeda Zakat Fitrah dengan zakat lainnya," jelas Syu'aibun.

Syu'aibun menuturkan, besar Zakat Fitrah itu harus dikeluarkan sebesar 2.7 kilogram beras yang disesuaikan dengan konsumsi per-orangan sehari-hari. "Kalau kita mau uangkan Zakat Fitrah itu sesuai dengan harga beras yang kita makan," jelasnya.

Diantara hikmah kenapa Zakat Fitrah dilaksanakan pada bulan Ramadan yaitu untuk menyempurnakan ibadah puasa yang dilakukan. Karena, pada kenyataannya banyak diantara kaum muslimin yang berpuasa, tapi masih melakukan hal-hal yang dapat mengurangi pahala.

"Misalnya, berbuat sesuatu yang tidak bermanfaat dan sia-sia, berkata keji, berbohong, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dalam rangka menambah dan melengkapi pahala puasa maka disempurnakanlah dengan mengeluarkan Zakat Fitrah," jelasnya.

Selain Zakat Fitrah, Syu'aibun menambahkan, bagi orang tua lanjut usia yang tidak mampu melaksanakan puasa dan ibu-ibu yang sedang hamil harus membayar Fidyah.

Fidyah yang diberikan akibat ditinggalkannya puasa Ramadan karena tidak mampu melaksanakannya, atau oleh keluarga orang yang belum sempat meng-qadha atau mengganti puasa yang ditinggalkannya.

"Dengan memberikan Fidyah, gugurlah suatu kewajiban yang telah ditinggalkannya," ujarnya.

Bagi wanita yang tidak bepuasa karena hamil atau menyusui maka ia diperkenankan untuk tidak berpuasa. Jika ia tidak berpuasa karena khawatir terhadap dirinya sendiri atau pada diri dan bayinya maka ia hanya wajib mengganti puasanya setelah bulan Ramadan.

“Dan, tidak ada kewajiban membayar Fidyah. Jika ia tidak berpuasa karena khawatir terhadap anak atau bayinya maka ia meng-qadha dan membayar Fidyah sekaligus," tutur Syu'aibun.

(jw/csp)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar