Bayi Penderita Pembengkakan Pembuluh Darah Berharap Bantuan Dermawan

Bayi Penderita Pembengkakan Pembuluh Darah Berharap Bantuan Dermawan

Di bawah kepala Wahyuni Aritonang terpaksa dibentangkan daun pisang

(jw/eal)

Senin, 3 September 2018 | 10:26

Analisadaily (Tapteng) - Seorang bayi warga Dusun III Desa Mombang Boru, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), mengidap pembengkakan pembuluh darah. Bayi malang itu pun memerlukan bantuan dermawan untuk biaya perobatan.

Bocah perempuan bernama Wahyuni Aritonang yang lahir pada 6 Juli 2018 lalu mengidap pembengkakan pembuluh darah sejak berusia dua pekan. Anak keempat dari pasangan Frenki Aritonang (34) dan Dewi Sartika Hutauruk (28) itu terus menangis menahan sakit yang mendera dirinya.

Frenki mengatakan ketika usia putrinya menginjak dua bulan, kulit kepala bagian belakang dan leher bagian belakang terlihat melepuh hingga mengeluarkan air dan nanah.

"Di bawah kepala Wahyuni terpaksa dibentangkan helaian daun pisang. Kondisi ini diawali saat kepala dan leher Wahyuni membengkak pada saat usia dua minggu setelah melahirkan," kata Frenki, Senin (3/9).

Lebih lanjut, Frenki menceritakan bahwa putrinya yang dilahirkan secara normal tiba-tiba mengalami demam tinggi yang disusul pembengkakan kepala dan leher bagian belakang. Melihat sakit yang diderita Wahyuni, mereka kemudian membawa putrinya berobat ke Puskesmas Sibabangun.

"Waktu sakit itu kami membawanya ke Puskesmas. Kemudian dari Puskesmas kami dirujuk ke RSUD Pandan untuk menjalani perawatan. Dari hasil diagnosa dokter, Wahyuni didiagnosa mengidap pembengkakan pembuluh darah," ujarnya.

Usai menjalani perawatan di RSUD Pandan selama kurang lebih satu pekan, pembengkakan kepala dan leher bagian belakang menyusut. Namun secara perlahan kulit leher bagian belakang melepuh yang menjalar hingga kulit kepala bagian belakang.

"Oleh pihak RSUD Pandan, Wahyuni disarankan berobat ke salah satu rumah sakit di Medan. Karena terkendala ekonomi, kami akhirnya membawanya pulang ke rumah," tutur Frenki.

Ayah Wahyuni yang bekerja sebagai buruh harian lepas merasa tidak mampu membawa anaknya berobat ke Medan. Sementara untuk mendapatkan perawatan medis di RSUD Pandan, Frenki hanya bermodalkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Perasaan putus asa menghantui keluarga miskin ini, sementara kondisi kesehatan Wahyuni semakin memprihatinkan. Jaminan kesehatan berupa KIS maupun BPJS tidak dikantongi orang tua Wahyuni. Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut.

"Jangankan untuk biaya berobat, untuk makan sehari saja kami sering keteteran dan kadangkala harus meminjam dulu ke tetangga agar bisa makan," ucap Frenki.

Kini harapan mereka tertumpu kepada para dermawan dan pemerintah. Orang tua Wahyuni berharap anaknya lekas sembuh dan sehat seperti semula. Keinginan untuk berobat ke salah satu rumah sakit di Medan terkendala akibat tidak memiliki biaya.

"Semoga pemerintah maupun para dermawan berkenan membantu biaya pengobatan putri saya ini. Kami ingin melihat anak kami sehat dan bisa bermain dengan anak seusianya," pinta Frenki.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar