Bantu Korban Gempa, Hindari Donasi Susu Formula Untuk Bayi

Bantu Korban Gempa, Hindari Donasi Susu Formula Untuk Bayi

Pengungsi dan tim relawan gempa bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Bali tampak bergotong royong mempersiapkan makanan untuk dikonsumsi (BNPB)

Minggu, 12 Agustus 2018 | 10:07

Analisadaily (Lombok) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, data korban akibat gempa bumi dengan magnitudo 7 di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Bali terus bertambah.

Kepala pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebut, terdapat 387.067 jiwa pengungsi yang tersebar diberbagai titik. Karena itu, pengungsi akan terus memerlukan bantuan, apalagi belum semua kebutuhan dasar terpenuhi.

Bahkan, hingga Sabtu (11/8) masih ada pengungsi yang belum menerima bantuan karena sulitnya akses untuk menjangkau lokasi pengungsian.

Dari jumlah yang disebutkan itu, ada banyak bayi dan anak-anak yang harus diperlakukan khusus selama mengungsi. Begitu juga dengan dengan ibu hamil, lansia dan disabilitas

Di Kabupaten Lombok Utara ada 1.991 jiwa balita berusia nol sampai lima tahun dan 2.641 jiwa anak-anak berusia enam sampai sebelas tahun.

Namun, Sutopo mengingatkan, pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak dapat dilakukan sembarangan. Ibu dan bayi yang masih menyusui harus mendapat perhatian. Air susu ibu merupakan makanan yang paling sempurna bagi bayi.

“Menyusui dalam kondisi darurat harus dilakukan ibu hingga usia 2 tahun atau lebih. Air susu ibu tidak bisa diganti dengan susu formula. Sebab, sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, alat memasak, botol steril dan lainnya sangat terbatas,” ujar Sutopo.

“Akibatnya, kasus penyakit diare pada bayi usia di bawah enam bulan dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak menerimanya. Bahkan, pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya kekurangan gizi dan kematian bayi.”

Harus Ada Persetujuan

Masih kata Sutopo, dalam beberapa pengalaman saat terjadi bencana, apalagi skala bencananya besar yang menyebabkan banyak pengungsi pada saat tanggap darurat bencana, susu formula dan susu bubuk adalah bantuan umum diberikan dalam keadaan darurat.

“Sayangnya, produk tersebut seringkali dibagikan tanpa kajian dan pemantauan yang baik sehingga dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak yang seharusnya masih perlu disusui,” tambahnya.

Sebagai Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNICEF dan WHO telah mengingatkan bahaya pemberian susu formula di pengungsian. Banyak kasus saat bencana di dunia, pemberian susu formula kepada balita dan anak-anak justru meningkatkan penderita sakit dan kematian.

Di Indonesia, kasus pasca bencana gempa di Bantul, Yogyakarta, hendaklah dijadikan pelajaran. Pemberian susu formula kala itu justru meningkatkan terjadinya diare pada anak di bawah usia dua tahun.

“Ternyata, 25 persen dari penderita itu meminum susu formula,” sambung Sutopo.

Oleh karenanya, lanjut Sutopo, masyarakat/lembaga/relawan tanggap gempa dihimbau tidak menyalurkan donasi susu formula dan produk bayi lainnya seperti botol, dot, empeng tanpa persetujuan dari Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota setempat.

“Ibu yang menyusui anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis untuk meneruskan menyusui. Mereka tidak boleh sembarang diberikan bantuan susu formula dan susu bubuk,” tuturnya.

Meski demikian, ada pengecualian, jika ada bayi yang tidak bisa disusui, bayi tersebut harus diberikan susu formula, dan perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut, di bawah pengawasan ketat  oleh tim dokter dan kondisi kesehatan bayi harus tetap dimonitor.

Bagi pengungsi yang memiliki anak usia nol sampai enam bulan terus berikan ASI eksklusif. Bayi usia 6-9 bulan lanjutkan menyusui dan dapat diselingi dengan makanan sehat yang dibuat dengan disaring.

Para pengungsi dan tim relawan tampak sedang mempersiapkan sejumlah bahan untuk dimasak

Para pengungsi dan tim relawan tampak sedang mempersiapkan sejumlah bahan untuk dimasak

Tekstur makanan lumat dan kental. Bayi usia 9-12 bulan lanjutkan menyusui dan ditambahkan makan dengan bahan makanan  sama dengan untuk orang dewasa. Tekstur makanan dicincang/dicacah, dipotong kecil, dan selanjutnya makanan yang diiris-iris.

Perhatikan respon anak saat makan. Selanjutnya bayi usia 12-24 bulan lanjutkan menyusui hingga 2 tahun atau lebih dan ditambahkan dengan makanan keluarga.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda, selimut, makanan siap saji, beras, MCK portable, air minum, air bersih, tendon air, pakaian, terpal/alas tidur, alat penerang/listrik, layanan kesehatan dan trauma healing.

Diimbau masyarakat dan semua pihak untuk memerhatikan jenis bantuan yang diperlukan. Agar, niat baik untuk membantu sesama justru tidak menimbulkan masalah baru khususnya bagi bayi dan balita di pengungsian.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar