Balai Karantina Pertanian Ekspor Pelet Sebanyak 45 ton ke India

Balai Karantina Pertanian Ekspor Pelet Sebanyak 45 ton ke India

Pelet dari produk olahan gambir siap ekspor, Jumat (13/9)
 

(jw/csp)

Jumat, 13 September 2019 | 14:22

Analisadaily (Medan) - Sebanyak 54 ton pelet dari produk olahan daun gambir asal Pakpak Bharat, senilai Rp 1.9 milyar diekspor ke India melalui Pelabuhan Belawan.

Pengeksporan tersebut dilakukan Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Belawan.

Kepala Karantina Pertanian Belawan, Hasrul mengatakan, berdasarkan data Indonesian Quarantine Full Automation System (IQFAST) Karantina Pertanian Belawan, tercatat selama periode Januari-Agustus 2019 ekspor gambir mencapai volume 2.7 ribu ton dengan 61 kali pengiriman dengan nilai Rp 98.5 miliar.

"Sedangkan pada 2018, tercatat ekspor pelet daun gambir mencapai volume 4.1 ribu ton atau senilai Rp 148.8 miliar. Komoditas gambir ini termasuk produk pertanian yang diminati dunia, khususnya India dan Bangladesh," kata Hasrul, Jumat (13/9).

Hasrul menjelaskan, daun gambir (Uncaria gambir roxb) di Sumatera Utara banyak ditemui di Kabupaten Pakpak Bharat. Daun ini banyak digunakan untuk menyirih dan sebagai alat untuk membersihkan gigi dan mulut.

"Tanaman gambir ini juga mengandung satu senyawa bernama katekin yang memiliki efek antioksidan yang baik untuk tubuh," terang Hasrul.

Dari informasi yang diperoleh, pelet daun gambir dibuat dari hasil peremasan daun gambir kemudian dikeringkan dan dibentuk menjadi pelet.

Produk olahan ini di negara tujuan ekspor, digunakan sebagai bahan campuran pembuatan obat luka bakar, obat sakit kepala, obat diare, obat disentri, obat kumur-kumur, obat sariawan, serta dapat juga langsung dibalurkan sebagai obat sakit kulit.

Selain untuk pengobatan, pelet gambir juga digunakan sebagai bahan penyamak kulit dan bahan untuk pewarna tekstil.

"Kami mengapresiasi pelaku usaha yang telah mengekspor gambir dalam bentuk setengah jadi. Semoga kedepan daun gambir dapat ditingkatkan menjadi produk jadi,  sehingga lebih banyak nilai tambahnya," pungkas Hasrul.

(jw/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar