Awal Tahun 2018, Harga-harga Kebutuhan Pokok Melonjak Naik

Awal Tahun 2018, Harga-harga Kebutuhan Pokok Melonjak Naik

Pedagang sayur mayur di Pasar Simpang Limun, Medan, Rabu (3/1).

(aa/rzd)

Rabu, 3 Januari 2018 | 13:35

Analisadaily (Medan) - Tiga hari di awal tahun 2018 ini, harga-harga kebutuhan pokok seperti cabai, bawang, dan sayur-mayur di tingkat pedagang tradisional melonjak naik.

Pantauan Analisadaily.com di Pasar Simpang Limun, Medan, Rabu (3/1) harga cabai, bawang, dan beberapa jenis sayur, merangkak naik.

Pedagang sayur di Pasar Simpang Limun, Martaulina mengatakan, harga cabai dan bawang melonjak naik, bahkan sejak menjelang Natal 2017 lalu.

“Cabai merah Rp 45 ribu/kilo, cabai hijau Rp 32 ribu/kilo. Cabai rawit harganya melonjak tinggi, Rp 55 ribu/kilo. Bawang merah Rp 28 ribu/kilo dan bawang putih Rp 20 ribu/kilo,” katanya.

Harga cabai dan bawang naik setelah tahun baru, antara lain cabai hijau masih berkisar Rp 28 ribu/kilo, cabai rawit di bawah Rp 50 ribu/kilo, bawang merah Rp 24 ribu/kilo dan bawang putih Rp 18 ribu/kilo, sebelum pergantian tahun.

“Sawi Rp 7 ribu, harganya cukup tinggi sejak Natal. Sebelum Natal masih di bawahnya, bahkan Rp 5 ribu. Naik karena stok nggak banyak,” ucapnya.

Selain cabai dan bawang, harga sayur seperti wortel, kentang, sawi pahit, daun sop-prei, serta daun bawang, juga ikut melonjak naik setelah tahun baru.

Dijelaskannya, harga wortel saat ini dijual Rp 10 ribu/kilo sebelumnya masih Rp 6 ribu/kilo, kentang Rp 12 ribu/kilo sebelumnya Rp 10 ribu/kilo.

Lalu daun sop-prei kini Rp 30 ribu/kilo sebelum Natal Rp 20 ribu/kilo, bahkan hari-hari sebelumnya hanya dijual Rp 12 ribu/kilo. Daun bawang dijual Rp 30 ribu/kilo, sedangkan di bulan Desember 2017 lalu masih Rp 20 ribu/kilo.

“Harga-harga naik karena setelah tahun baru, stok barang nggak banyak, mungkin karena banyak petani libur. Hanya harga tomat normal, Rp 5-6 ribu/kilo sejak Natal kemarin,” tandasnya.

Keluhan Warga

Kenaikan harga bahan pokok dikeluhkan oleh masyarakat. Wahyuni, seorang pembeli mengaku bingung dengan kenaikan harga, apalagi dirinya membuka usaha warung nasi kecil-kecilan.

“Setiap harga-harga naik saya sangat dilema karena bingung mau dinaikkan atau tidak dagangan saya. Apalagi banyak yang beli dagangan saya anak-anak kos, kuliahan,” keluhnya.

(aa/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar