Antisipasi Pelemparan Batu, PT KAI Telah Lakukan Sosialisasi

Antisipasi Pelemparan Batu, PT KAI Telah Lakukan Sosialisasi

Kasus pelemparan batu di kereta api.

Rabu, 11 Januari 2017 | 22:43

Analisadaily (Medan) - Manager Humas PT. Kereta Api Divisi Regional I Sumatera Utara, Joni Martinus mengatakan, sepanjang tahun 2016 terjadi 29 kali pelemparan batu terhadap kereta api.

PT. KAI Divre I Sumut juga telah melakukan sosialisasi tentang bahaya dan penting-nya bersama-sama menjaga keamanan perjalanan kereta api, terutama kepada masyarakat yang berada di sepanjang jalur.

“Sosialisasi sering kita lakukan. Pelemparan batu tersebut dilakukan oleh orang tak dikenal,” kata Joni, Rabu (11/1).

Dijelaskannya, sejumlah lokasi yang terjadi pelemparan batu terhadap kereta api sepanjang tahun 2016 adalah Stasiun Rampah - Teluk Mengkudu - Lidah Tanah - Bandar Tinggi - Bahlias, Stasiun Medan - Binjai, Kisaran - Henglo.

Kemudian Stasiun Bamban - Tebing Tinggi, Laut Tador, Stasiun Lima Puluh - Perlanaan, Stasiun Lubuk Pakam, Stasiun Kisaran - Tanjung Balai, Stasiun Situnggir - Pamingke - Pulau Brayan - Labuhan.

“Pada 11 Juni 2016, kereta api dengan nomor perjalanan V1/2908c lokomotif 2037804 dilempar batu oleh orang tidak dikenal di KM 108 +1/2 antara Stasiun Bandar Tinggi - Bahlias. Pelemparan ini mengakibatkan kaca kabin masinis pecah dan serpihan kaca melukai tubuh masinis,” sebutnya.

Selanjutnya pada 11 Maret 2016, kereta api Sribilah jurusan Rantau Prapat - Medan dengan nomor perjalanan U47 dilempar batu oleh orang tak dikenal di KM 115+5/6 antara stasiun Lima Puluh - Stasiun Perlanaan, mengakibatkan kaca jendela gerbong pecah dan pecahan kaca tersebut melukai penumpang.

“Kita berharap agar aksi pelemparan terhadap kereta api segera dihentikan, karena sangat berbahaya bagi keselamatan awak, penumpang dan dapat menimbulkan kerusakan sarana kereta api,” ucap Joni.

Kasus pelemparan batu di kereta api.

Kasus pelemparan batu di kereta api.

Pelaku pelemparan batu ke kereta api diancam hukuman pidana yang diatur dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 180 yang menyebut, setiap orang dilarang menghilangkan, merusak atau melakukan perbuatan yang mengakibatkan rusak dan/atau tidak berfungsinya Prasarana dan Sarana Perkeretaapian.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 194 (1) juga disebutkan, barang siapa dengan sengaja menimbulkan bahaya bagi lalulintas umum yang digerakkan oleh tenaga uap atau mesin lainnya di jalan kereta api atau trem, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar