Akibat Kabut Asap Kiriman, Nelayan di Tapteng Takut Melaut

Akibat Kabut Asap Kiriman, Nelayan di Tapteng Takut Melaut

Nelayan dengan perahu tradisional di Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah

(jw/eal)

Rabu, 18 September 2019 | 18:11

Analisadaily (Tapanuli Tengah) - Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung menyebabkan para nelayan di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, takut melaut.

Salah seorang nelayan, Ucok Pasaribu, mengaku sudah lebih dari sepekan tidak melaut karena kabut asap yang melanda wilayahnya.

Menurutnya sebagian besar nelayan di Kecamatan Pandan, Tapteng, merupakan nelayan tradisional yang tidak memiliki alat navigasi memadai.

"Hampir sepekan nelayan di sini takut melaut. Karena kabut asap yang tebal, kami takut nyasar," kata Ucok, Rabu (18/9).

Dalam beberapa hari terakhir, sambung Ucok, kabut asap semakin pekat dan membatasi jarak pandang yang menjadi andalan mereka saat melaut. Sebab selama ini mereka tidak memiliki alat navigasi modern.

"Gimana kami mau melaut, sedangkan alat kami tradisional tidak ada navigasi di perahu," ucapnya.

Menurut Ucok, nelayan bisa saja melaut hingga ke tengah, namun yang mereka khawatirkan adalah jarak panjang yang semakin terbatas membuat mereka tidak bisa pulang ke darat.

"Jangan-jangan nelayan bisa nyasar, atau bahkan bisa sampai ke Samudera Hindia kalau tidak ada alat penunjuk arah," ujarnya. 

Ketakutan para nelayan cukup beralasan. Sebab tahun-tahun sebelumnya dengan kondisi udara yang sama, banyak nelayan yang tersesat. Belum lagi kondisi cuaca saat ini mulai memasuki musim penghujan. Kadang hujan datang disertai angin kencang sehingga gelombang laut cukup tinggi.

"Sementara sebagian besar kami (nelayan) di sini hanya menggunakan perahu-perahu kecil untuk melaut dan menangkap ikan," terang Ucok.

Akibat tidak melaut lebih dari sepekan, penghasilan nelayan menjadi berkurang. Mereka hanya berani menangkap ikan di pinggir laut.

"Kami sekarang tangkap ikan hanya di pinggir pantai saja dan hasilnya jauh dari prediksi. Daripada kami nekat ke tengah laut, nyasar dan tenggelam, risikonya lebih besar," tukasnya.

(jw/eal)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar