Ahli Geofisika: PLTA Batang Toru Berada Dalam Zona Merah

Ahli Geofisika: PLTA Batang Toru Berada Dalam Zona Merah

Ahli Geofisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Teuku Abdullah Sanny.

(jw/rzd)

Senin, 7 Januari 2019 | 17:52

Analisadaily (Medan) - Sidang gugatan izin lingkungan Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru dilanjutkan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Medan. Dalam sidang kali ini, Ahli Geofisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Teuku Abdullah Sanny dihadirkan sebagai saksi ahli.

Teuku Abdullah Sanny mengatakan, PLTA Batang Toru berada dalam zona merah patahan yang sangat berbahaya.

"Jika terjadi gempa, banyak potensi bahaya yang terjadi," katanya, Senin (7/1).

Teuku Abdullah Sanny menyebut, ada hal menarik soal fakta patahan di kawasan Batang Toru. Bendungan yang menjadi sumber energi tersebut memang tidak berada tepat di patahan, namun vibrasi atau getaran dari gempa di patahan bisa memberikan pengaruh signifikan.

"Di dekat situ ada patahan, di peta lima kilometer dari situ. Bagaimana pengaruh patahan atau vibrasi terhadap bendungan? Itu perlu diperhatikan.  Perlu dilakukan penelitian detail," jelasnya.

Menurut Profesor dari ITB tersebut, perlu dilakukan penelitian secara detail dari aspek geofisika karena memang sangat dibutuhkan. Sebab, zona merah dikatakan sebagai wilayah yang berbahaya.

"Belum ada penelitian yang menunjukkan jika lokasi pembangunan bendungan berada di segmen paling berbahaya. Saya tidak berani menjamin, jika proyek itu diteruskan tanpa penelitian dari aspek geofisika," terangnya.

Dugaan Penggunaan Bahan Peledak

PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) juga diduga menggunakan bahan peledak dalam jumlah besar untuk membuat terowongan. Teuku Abdullah Sanny menegaskan, penggunaan bahan peledak memberikan pengaruh dan berpotensi membuat fracture (patahan) baru.

"Jelas berpengaruh. Tapi bagaimana pengaruhnya, mungkin mereka sudah menghitung atau bagaimana saya belum tahu," ungkapnya.

Teuku Abdullah Sanny menambahkan, penggunaan bahan peledak bisa menjadi pemicu ampifikasi batuan yang ada di sana.

"Penelitian harus meyakinkan itu diteruskan atau tidak, atau dipindahkan.  Saya juga belum bisa mengatakan sekarang. Tapi yang jelas, sudah wanti-wanti. Para ahli di seluruh dunia sama kesepakatannya, itu berada di zona merah," pungkasnya.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar