Adek Berry Ceritakan Pengalaman Liputan di Daerah Konflik

Adek Berry Ceritakan Pengalaman Liputan di Daerah Konflik

Fotografer Agence France-Presse (AFP) Jakarta, Adek Berry saat memaparkan pengalamannya di Medan, Kamis (17/1)

(rzp/csp)

Kamis, 17 Januari 2019 | 21:44

Analisadaily (Medan) - Sebagai seorang jurnalis, banyak hal yang dirasakan dan dialami oleh Adek Berry, Foto Jurnalis yang bekerja di Agence France-Presse (AFP) Jakarta. Mulai dari hal biasa-biasa saja, hingga luar biasa.

Dalam diskusi Adek Berry berbagi pengalaman kepada peserta yang datang dari kalangan Pers Mahasiswa (Persma) dan jurnalis di Kota Medan.

"Sebelum berangkat liputan atau motret, jurnalis harus melalukan riset dan humble, tidak gampang panik serta tidak gampang menghakimi," kata Adek Berry di Kantor AF Medan, Jalan Hasanuddin, Kamis (17/1) malam.

Dijelaskannya, ada beberapa hal yang harus dipelajari saat akan melakukan peliputan. Misalnya, jika meliput demonstrasi, maka seorang jurnali harus mempersiapkan hal-hal lain yang sebenarnya sangat sepele.

"Ada beberapa hal yang harus dilakukan. Selain mempersiapkan diri dan peralatan foto, kita juga harus menyiapkan odol dan air, karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Biasanya saat demonstrasi akan ada gas air mata. Untuk meredanya maka harus menyiapkan hal-hal kecil itu," jelasnya.

Wanita yang memulai karier jurnalistik sejak tahun 1997 tersebut juga bercerita bagaimana pengalamannya harus berjuang mendapatkan foto terbaik di lokasi krisis dan konflik, yang memang tidak mudah.

"Saya belajar banyak selama bekerja di kantor berita asing, terutama belajar dengan teman-teman yang dari negara asing. Belajar bagaimana culture mereka dan hal-hal mengenai negara mereka," ungkapnya.

Adek Berry menerangkan, dalam memotret juga banyak yang harus dipahami, seperti ketika memotret bola alangkah baiknya mengetahui semua para pemainnya, siapa strikernya, siapa wasitnya, dan lainnya, agar semakin memudahkan ketika memotret.

"Jika mengetahui lebih detail apa yang akan kita potret, tentunya hal tersebut semakin memudahkan kita dalam melakukan peliputan," terangnya.

Bagi Adek Berry, jurnalistik merupakan profesi yang spesial, karena banyak pengalaman seru dan menarik yang terjadi. Adek menekankan, dalam meliput, dirinya memposisikan dirinya bukan sebagai pribadi, tetapi sebagai jurnalis.

"Hasil kerja ditunggu kantor. Hasil kerja akan dilihat banyak orang. Ini yang membuat saya fokus. Jadi jurnalis, dengan satu identitas, kita bisa bertemu  banyak orang dari berbagai kalangan, presiden, pejabat, dan kalangan lainnya," ucapnya.

Meski telah malang melintang meliput di berbagai daerah konflik, bagi Adek tantangan saat di lapangan tetap ada. Apalagi ketika muncul antara rasa ragu, kasihan, dan harus menolong objek yang dipotret.

"Kemanusiaan bagi saya nomor satu. Tapi, memotret dan pekerjaan kita ditunggu. Nah, di situ profesional kita dituntut. Makanya harus fokus dan konsentrasi," ujarnya.

Menurut Adek, seorang jurnalis yang berangkat ke daerah konflik tidak boleh sembarangamln, harus lulus training terlebih dahulu, jangan sembarangan apalagi yang meliput adalah anak baru.

"Setelah training, dan jika kita pertama kali liputan ke daerah konflik, dan kalau kita tidak tau lokasinya, maka seorang jurnalis lagi-lagi harus humble dan jangan malu bertanya," ucap Adek.

Tanggapan Keluarga

Disinggung mengenai tanggapan keluarga terkait profesinya, Adek mengaku saat ini keluarganya sangat mendukung. Diakui Adek, dirinya berasal dari keluarga yang demokratis. Apa saja yang dilakukannya jika baik, selalu didukung.

"Saya selalu bisa menjaga kepercayaan dan memberikan hasil yang bagus. Ini yang menjadi penilaian dan meningkatkan kepercayaan keluarga," ungkapnya.

Ke suami dan anak, Adek memastikan harus memberikan komunikasi dan pengertian yang baik. Karena saat pergi liputan, Adek terlebih dahulu harus menyiapkan rumah, agar anak-anak dan suaminya bisa paham.

"Saya selau beritahu ke mana saja saya akan pergi saat liputan, apa saja yang akan saya lakukan dan kerjakan, serta lokasinya di mana saja. Intinya komunikasi," sebutnya.

Proses Membuahkan Hasil

Diakhir diskusi, Adek mengaku, awalnya menjadi jurnalis sempat kagok, sempat pernah dipukul, bocor kepala. Nah, pengalaman seperti ini yang membuatnya semakin belajar banyak. Adek percaya, semua profesi jila dicintai akan menghasilkan hasil yang maksimal.

"Bagi saya, semua yang berproses akan menjadi lebih baik dan membuahkan hasil maksimal. Kalau instan tidak. Intinya, ketika saya memilih profesi ini, berarti saya harus siap liputan apa saja, baik foto fashion show, wisata, hingga liputan bencana dan konflik," Adek menandaskan.

(rzp/csp)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar