109 Orangutan Telah Dilepasliarkan ke Hutan Jantho

109 Orangutan Telah Dilepasliarkan ke Hutan Jantho

Satu dari empat orangutan yang dilepasliarkan ke Hutan Jantho (YEL-SOCP)

(jw/eal)

Kamis, 15 November 2018 | 21:58

Analisadaily (Aceh) - Empat Orangutan Sumatera bernama Leo, Ully, Cut Luwes dan Aruna dikirim Yayasan Ekosistem Lestari melalui Program Konservasi Orangutan Sumatra (SOCP) ke Pusat Reintroduksi Orangutan di Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Direktur Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP), Ian Singleton mengatakan, hingga saat ini 109 individu orangutan telah dilepasliarkan ke Cagar Alam Hutan Pinus Jantho. Hal ini sesuai dengan tujuan untuk membentuk populasi baru orangutan yang hidup liar dan mandiri.

Salah satu bukti nyata bahwa proses reintroduksi dalam membentuk populasi baru dan mandiri orangutan di Jantho berjalan dengan baik adalah dengan ditemukan kelahiran dua bayi orangutan di hutan Jantho pada tahun 2017 dari induk orangutan yang dilepasliarkan pada tahun 2011 lalu.

"Momen yang sangat istimewa ketika orangutan ini lulus dari Pusat Karantina dan Rehabilitasi orangutan kami, mengingat beberapa dari mereka tiba pertama kali dalam kondisi yang menyedihkan. Kemudian melanjutkan ke tahap berikutnya untuk proses reintroduksi," kata Ian, Kamis (15/11).

Supervisor Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan YEL-SOCP, Drh Citrakasih menjelaskan, sebelum memulai kegiatan reintroduksi di Jantho, tidak ada populasi orangutan liar di sana. Dengan melepaskan orangutan seperti Leo dan kawan-kawannya, akan mendorong terciptanya populasi liar yang benar-benar baru dan mandiri dari spesies sangat terancam punah ini.

"Diharapkan pelepasliaran orangutan ini dapat mendorong populasi liar baru. Sebab, orangutan masuk dalam kategori spesies sangat terancam punah," jelasnya.

Manajer Stasiun Reintroduksi Orangutan SOCP di Jantho, Mukhlisin menambahkan, pihaknya sangat senang mengetahui orangutan yang sering dijadikan sebagai satwa peliharaan ilegal, yang tak jarang dalam kondisi memprihatinkan, dapat pulih dari traumanya, dan belajar menjadi orangutan liar lagi.

"Bahkan dapat berkontribusi dalam jangka panjang untuk kelangsungan generasi spesies mereka berikutnya di alam liar," ungkapnya.

Setiba di Jantho, Leo, Ully, Cut Luwes, dan Aruna akan terlebih dahulu menjalani fase adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan pengasuh baru mereka, serta jenis-jenis makanan baru yang akan mereka temukan setelah lepas di dalam hutan.

Setelah nanti dilepasliarkan sepenuhnya, mereka akan tetap dimonitor secara ketat pasca pelepasliaran oleh tim pemantau SOCP. Apabila semuanya berjalan dengan baik, dan mereka dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan di alam liar, dalam beberapa tahun kedepan mereka akan menghasilkan bayi mereka sendiri, dan akan menjadi bagian dari 'pendiri' populasi baru orangutan di Hutan Jantho.

Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo menyebut, hingga saat ini kegiatan reintroduksi dan menciptakan populasi baru orangutan yang mandiri di Jantho sangat berhasil. Akan tetapi pihaknya masih perlu menangani akar masalah di lapangan, dengan fakta bahwa orangutan seperti Leo, Aruna, Cut Luwes, Ully, dan banyak orangutan lain masih ditangkap dan dipelihara secara ilegal sebagai hewan peliharaan.

"Kita tidak akan bosan untuk mengatakan, masyarakat harus mengetahui kalau menangkap, membunuh, memperdagangkan, atau memiliki orangutan di Indonesia adalah perbuatan ilegal, masuk dalam tindakan kriminal. Tentu akan ada sanksi hukum berupa denda hingga penjara," tegas Sapto.

(jw/eal)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar